Sejarah Puyuh di Indonesia dan Sedikit tentang Persilangan

Puyuh yg kini diternakan masyarakat Indonesia adalah jenis puyuh jepang (coturnix Japonica) karena berasal dari jepang sejak thn 1907 -1941 (perang dunia II) juga kebanyakan diternakan di daratan asia sbg puyuh petelur, sedang kalau ke eropa sebagai puyuh pedaging.

Kalau puyuh local/liar tidak diternakan karena produksi telur dan daging rendah karena belum didomistikasi dan pemuliabiakan (butuh waktu puluhan tahun mendekati sifat produktif spt puyuh jepang)
saya sarankan kalau bapak ingin mempunyai keturunan anak puyuh dan dijadikan untuk budidaya selanjutnya PERKAWINAN BAPAK TADI jangan diteruskan. itu yg disebut kawin silang dalam (inbreeding).

perkawinan seperti itu akan terjadi rekombinasi gen-gen tertentu, dimana gen yang membawa sifat jelek bertemu dengan gen bersifat yg jelek, bisa gen yg bersifat jelek bertemu dg gen bersifat baik, atau bisa jg gen bersifat bagus bertemu dg gen bersifat bagus (ingat hukum segregasi Mendel). yg terakhir itu (gen bagus ketemu gen bagus) yg kita harapkan, tapi yg pertama tadi justru yg harus dihindarkan.

Contoh gen yg bagus bersifat kuantitatif (menguntung kita) spt bobot/besar telur, produksi tinggi, daya tahan tubuh (imunogenetik), panjang masa produksi dll. contoh gen jelek adalah kebalikan yg bagus tadi . semua itu dikendalikan oleh gen yg autosomal /somatis (kromosom tubuh). trmasuk warna putih hasil perkawinan bapak tadi adalah gen-gen resesif saling bertemu.

Sedang warna bulu pd unggas umumnya dikendalikan oleh gen/alel yang terpaut pd kromosom seks, artinya warna bulu (fenotipe) hitam atau coklat tergantung pada susun genotipe kromosom kelaminnya pd puyuh, susun genotipe ZZ adalah jantan kalau ada gen/alel tersangkut pd kromosom Z, misal H=Hitan, maka jadi puyuh jantan hitam, jika gen/alel yg trsangkutny misal h=coklet homozygote jadilah jantan cokelat, gen warna bulu ini bersifat kualitatif. dan berguna pd penentuan jenis kelamin aja. tidak mempengaruhi bobot telur, tinggi produksi, ketahanan terhadap penyakit atau pun lama produksi.

Berbagai hasil penelitian perkawian puyuh yang sama warna bulunya atau beda warna bulu disebut perkawinan asortatif positif dan asortatif negative. Juga tidak mempengaruhi terhadap bobot telur, jumlah telur, ketahanan terhadap penyakit dll. Yang terpenting bapak Deddi menjaga jangan sampai terjadi perkawinan keluarga dekat.

Kalau ingin menetaskan cari lah puyuh jantan atau betina secara silsilah histori bukan dari keturunan dekat.

Sumber: https://puyuhjaya.wordpress.com/disini-bibit-puyuh/comment-page-3/#comment-996

2 responses to “Sejarah Puyuh di Indonesia dan Sedikit tentang Persilangan

  1. Ping-balik: Pakan Stater tidak Perlu Dihemat Ketika Masa Pembesaran DOQ Bibit Puyuh Petelur | [PUYUH JAYA]

  2. Ping-balik: History of Quail Eggs and Benefits | jessyhutahaean

Silahkan Menuliskan Komentar di Sini [Trima Kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s