Menjaga Semangat dalam Menulis

Ibarat menyuguhkan hidangan, tulisan adalah sajian dari hasil olah menulis. Seperti halnya memasak, perlu ada api untuk mematangkan masakan. Demikian juga dalam menulis, memerlukan api yang selanjutnya disebut sebagai semangat.

Agak heran juga ya. Kenapa semangat lebih sering, atau malah selalu digambarkan sebagai api. Api semangat.

Lantas bagaimana tentang menghidupkan api semangat dalam menulis?

Hehe.. Saya bukan penulis, tapi kok menulis tentang menulis ya? Bukan penulis tenar. Bukan juga penulis buku yang sudah diterima penerbit. Bukan juga penulis apapun yang sudah dimuat di media massa. Apalagi penulis blog yang populer dengan berderet prestasi, so bukan juga. Mudah-mudahan belum saja. Siapa tahu kan…🙂
Tidak apa-apa, semua dalam kerangka belajar bersama, berlatih bersama, mencari, dan berbagi.

Kembali pada semangat dalam menulis….

Jika kita sedang menulis tidak ada semangat yang menjadi pembakar tulisan, bagaimana dengan pembacanya? Bisa-bisa juga tidak ada semangat dalam membacanya. Disitulah peran pentingnya semangat dalam menulis untuk menghidupkan tulisan. Juga agar menghidupkan semangat pembaca dalam membaca tulisan kita.

Bagaimana caranya?

Itu juga yang saya sedang ingin belajar. Bagaimana cara menumbuhkan atau menghidupkan semangat dalam menulis. Baiklah, coba kita ulas satu demi satu bahan bakar apa saja yang diperlukan untuk menghidupkan api semangat dalam menulis.

1. Gairah.

Gairah atas hasrat dari apa yang akan ditulis merupakan unsur pokok kepenulisan.
Tidak ada gairah, rasanya susah untuk menumbuhkan hasrat menulis.

2. Minat terhadap topik tulisan.

Tidak ada minat, mungkin bisa diibaratkan sayur tanpa garam. Hambar rasanya. Lalu bagaimana dengan pembaca? Apakah harus dipaksa minat? Padahal penulisnya saja tidak minat. Minat, menjadi bahan bakar utama juga dalam menulis.

3. Antusias.

Mungkin ada kemiripan arti dengan minat. Tapi yang ini barangkali lebih pada kesungguhan penulis dalam menuangkan kata perkata dalam menulis. Penting untuk antusias, agar pembaca yang dituju, juga antusias dalam membaca.

4. Penguasaan materi.

Tentu tidak harus menguasai sepenuhnya secara akademisi. Namun dengan memahami materi yang akan ditulis, kata-kata seperti tertuang meluncur dengan nikmat. Pembacanya juga akan nikmat membacanya, syukur-syukur berkenan memberikan komentar yang semakin menghidupkan tulisan kita.

5. Pengendalian emosi.

Sedang marah? Atau sedang tertimpa masalah? Gundah? Gelisah?
Jika belum bisa mengesampingkan rasa yang mengganggu seperti itu, lebih baiknya jangan menulis dulu yang menginginkan ketenangan. Atau menulis saja yang mengungkapkan perasaan itu semua. Maka akan mengalir dan mungkin bisa melegakan.

6. Tidak usah berpikir target panjang pendeknya tulisan.

Bisa jadi kekhawatiran bisa atau tidak menulis dengan panjang lebar mempengaruhi semangat, maka tidak perlu dikhawatirkan. Apalagi menulis di blog.

Sementara demikian dulu. Mohon maklum apabila ada salah.
Ada kritik, tambahan, masukan? Silahkan.

Salam
[Puyuh Jaya]

5 responses to “Menjaga Semangat dalam Menulis

  1. Tips yang menarik. Bagi saya, sebisa mungkin seketika mendapat ide langsung dituangkan ke dalam coret-coretan. Tanpa pikir baik-buruknya susunan kata dan kalimat. Yang penting menulis dulu. Setelah itu, barulah dilakukan revisi.

  2. Kita menghargai sesuatu karena kita tau apa kegunaan atau manfaat dari apa yang kita kerjakan.
    Contoh:
    Waktu puyuh begitu baik pemesarannya, maka banyak pula oarang-orang semangat untuk mencari info tentang ternak puyuh, karena mereka tau apa manfaat atau kepentingan mereka ingin usaha ternak puyuh.
    Tapi sekarang mungkin agak lesu pemasaran, mungkin ada beberapa orang yang dulu begitu menggebu-ngebu ingin tahu tentang puyuh, mungkin sekrang agak sedikit berkurang (bukan pecinta puyuhjaya lhooo)
    Jadi mungkin satu lagi agar kita tetap semangat dalam segala hal termasuk menulis, insaalloh adalah apa manfaat dari apa yang kita kerjakan.
    Mohon koreksi bila kurang benar.

    Salam hormat puyuhjaya, inpirator banyak orang termasuk saya.

    • Begitu juga Pak Komari yang senantiasa menyemangati.
      Biarpun harga telur puyuh mulai merangkak naik, tapi rasa-rasanya seperti masih lesu. Bagaimana akan memprediksi prospek peluang usaha puyuh tahun ini. Semoga para pakar berkenan berbagi solusi. Sehingga usaha rakyat semacam ini, kian berkembang dan menyejahterakan.

      Terima kasih berkenan mengapresiasi. Salam hormat selalu untuk Pak Komari.

  3. Terimakash ats artikelnya. Saat ini sedang dilanda malas luar biasa untuk menulis, padahal saya sedang menulis beberapa cerita yg mandek ditengah jalan karena merasa kehilangan ‘feel’ dari cerita2 itu.😀.

Silahkan Menuliskan Komentar di Sini [Trima Kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s