Bibit Puyuh Unggul dan Benih Jagung Hibrida Apakah Sama?

Jawabannya jelas beda antara bibit puyuh unggul dan benih jagung hibrida. Yang satu tanaman, satunya lagi jenis hewan. Jika itu yang menjadi ukuran ya memang tidak sama.
Tapi rasanya kok ada persamaannya ya. Coba kita bahas saja. Siapa tau ada persamaan antara bibit puyuh unggul dan benih jagung hibrida.

Dulu kali pertama ada benih jagung hibrida, relatif susah dalam mensosialisasikan atau memasyarakatkan di kalangan penanam jagung (tradisional). Ceritanya begitu.
Tapi sekarang? Sepertinya hampir semua menanam jagung hibrida.

Kenapa ya? Apa pula hubungannya dengan bibit unggul puyuh petelur?

Salah satu dari berbagai cerita tentang menanam benih jagung hibrida dibandingkan dengan menanam benih jagung yang biasa, pernah diceritakan oleh Bp. Ahmad peternak puyuh dari Lampung Selatan: [dulu] menanam 5 kg benih jagung hibrida dengan harga Rp 8 ribu per-kg, total biaya Rp 40 ribu, hasil panennya 1,3 ton.
Kemudian mencoba menanam benih jagung biasa 10 kg, waktu itu harganya Rp 600 per-kg, total biaya Rp 6000, hasil panen 300 kuintal.
*pemeliharaan dan perawatan sama persis. Luas lahan tidak diceritakan.

Alhasil, benih unggul jagung hibrida seolah sekarang menjadi STANDAR untuk penanaman jagung. Kecuali menanam jagung untuk arahan yang lain, seperti pakan burung, dll.

Lalu bagaimana mencoba mempersamakan benih jagung hibrida dengan bibit unggul burung puyuh petelur? Adakah bibit puyuh semacam benih jagung hibrida?

Untuk acuan atau pedoman (bukan peraturan yang mengandung sanksi / hukuman). Yaitu peraturan Menteri Pertanian No. 54/2010 pada bagian “bibit puyuh”, antara lain kriterianya sebagai berikut:

a. bobot minimal 8 gram/ekor

b. kondisi fisik sehat, tidak cacat, aktif dan lincah, dubur kering dan bersih, warna bulu sergagan, kondisi bulu kering dan mengembang

c. berasal dari induk dengan kemampuan produksi telur minimal 250 butir/ekor/tahun, bobot telurnya minimal 10 gram/butir, fertilitas dan daya tetas minimal 70%.

Cukup jelas tapi belum jelas. Bagaimana dengan hasil produksi bibit puyuh jika sudah sesuai dengan kriteria Permentan 54/2010 tersebut?

Membicarakan bibit unggul puyuh otomatis membicarakan juga bagaimana hasil produksinya. Seperti halnya pada jagung hibrida, peternak puyuh sebagai “konsumen bibit puyuh” saya kira perlu memahami biarpun sedikit-sedikit tentang bibit unggul. Yang mana pada akhirnya disebut bibit unggul puyuh petelur ini menjadi STANDAR. Tentu saja jangan sampai, analoginya, membeli benih jagung biasa tapi diaku sebagai benih jagung hibrida, dan diberi harga yang sama dengan yang hibrida. Tentu merugikan. Cara penanaman, pemeliharaan, dan perawatannya sama, tapi hasilnya tidak bisa “hibrida”.

Semoga tidak mungkin terjadi pada bibit puyuh. Sebab sepertinya sampai sekarang belum ada STANDAR bibit puyuh yang diukur dari “hasil produksinya bagaimana” seperti pada benih jagung hibrida.

Atau..

Cara mengetahui kualitas bibit puyuh harus menunggu bagaimana hasil produksi sampai apkir? Hal ini sedang dialami juga oleh seorang teman peternak. Kebetulan menggunakan bibit puyuh dari dua sumber yang berbeda. Dengan perawatan dan pembesaran sendiri yang sama perlakuannya, dari sumber bibit yang pertama puyuhnya besar-besar. Awal mulai bertelurnya berkisar 40 hari. Beda jauh dengan puyuh dari sumber yang kedua, puyuh sudah umur 90 hari selain produksi telurnya bahkan masih berkisar 60%, ukuran tubuhnya sama dengan puyuh dari sumber yang kedua pada umuran 25 hari. Ada apa ini?
Perhitungannya bisa-bisa teman peternak ini diperkirakan merugi. Itu baru dari hasil produksi, belum pada umur produksi maupun ketahanan atau kekebalan dari serangan penyakit.

Semoga ada pakar puyuh yang berkenan memberi pencerahan akan hal ini. Bagaimana kriteria bibit puyuh yang standar atau untuk sekarang dikatakan sebagai bibit puyuh yang unggul:

A. Apakah perlu mengetahui silsilahnya? Bisa jadi terkait dengan inbreeding maupun crossbreeding.

B. Apa ukuran standar untuk bibit puyuh “yang layak” dipelihara sebagai usaha industri? Terkait dengan kualitas hasil produksi, umur produksi maupun ketahanan dari serangan penyakit.

Perlu lagi diingat bahwa untuk memaksimalkan produksi, beberapa hal ini merupakan satu rangkaian: kualitas bibit puyuh, kualitas dalam pembesaran, standar pemeliharaan, juga kondisi rumah induk dan perkandangan.

Semoga bermanfaat.

Salam.
[Puyuh Jaya]

7 responses to “Bibit Puyuh Unggul dan Benih Jagung Hibrida Apakah Sama?

  1. Ok. tuh.

    Monggo…, kepada para pakar bibit puyuh untuk berkenan penjelasannya mengenai standar kriteria bibit puyuh unggul.

    Sukses Puyuh jaya.

  2. MIFTAH FARID, SP.

    Permisi Puyuh Jaya, saya ada sedikit dari yang pernah saya pelajari pada mata kuliah teknologi benih dulu.
    Begini kenapa disebut istilah jagung hibrida??? Sepertinya itu lah dari sekian banyak varietas jagung , tetapi jenis hibrida lah yang tetap unggul, tentunya didalam pemeliharaannya memerlukan penanganan yang ekstra ketat termasuk nutrisi (pupuk) yang benar-benar cukup dan seimbang. Fenomena keunggulan yang diperlihatkan jagung hibrida merupakan HASIL PERSILANGAN dua tetua galur murni (homozygote) disebut sebagai vigour hibrida atau heterosis (h2). (Heterosis= pengukuran kuantitatif rataan keunggulan anak atau keturunan terhadap rataan tetuannya, pengukuran kuantitatif hybrid vigour)
    Ada beberapa teori mengenai mekanisme genetic yang menjelaskan terjadinya HETEROSIS, salah satunya teori dominasi, yang pada prinsipnya menyebutkan bahwa alel-alel resesif merugikan yang dibawa oleh masing-masing galur murni akan ditutupi oleh alel-alel dominan pada individu hybrid yang heterozygote. Missal alel A = membawa sifat akar tanam tumbuh kuat,sementara alel a = membawa sifat akar tanaman lemah, sementara alel B = membawa sifat batang tanaman kokoh, sementara alel b = membawa sifat batang lemah. Persilangan antara galur murni AAbb (akar kuat, batang lemah) dengan galur murni aaBB (akar lemah, batang kokoh) akan menghasilkan hybrid AaBb mempunyai sifat akar kuat batang kuat. (catatan sifat-sifat tadi adalah contoh sifat kuantitatif yang dipengaruhi banyak gen sehingga bersifat additive).
    Nah fenomena heterosis (h2) ini sering dimanfaatkan pada bidang pemuliaan tanaman dan ternak, antara lain untuk merakit varietas jagung hibrida dan pada ternak merakit strain ayam ras petelur maupun strain ras pedaging (bagaimana dengan puyuh ???).
    Galur murni A disilang galur murni B mendapatkan hybrid H misalnya. Namun karena biji hybrid H ini dibawa oleh tongkol tetua (A dan B) yang kecil maka jumlah bijinya sedikit. Oleh karena itu jagung hibrida yamg dipasarkan bukan hasil silang tunggal (single cross) seperti itu, melainkan hasil silang tiga arah (three-way cross) atau silang ganda (double cross) ingat nilai heterosis (vigor hybrid) adalah sifat kuantitatif yang unggul melebihi kedua sifat tetuanya, karena adanya interaksi banyak gen, makanya bersifat additive. Pada persilangan tiga arah hibrida H digunakan sebagai tetua betina untuk disilangkan lagi dengan galur murni lain, sehigga biji hybrid yang dihasilkan akan dibawa oleh tongkol hybrid H yang ukurannya besar. sedangkan pada silang ganda Hibrida H disilang dengan Hibrid I hasil silang tunggal antara galur murni C dan D. pada siang ganda ini sebagai tetua betina dapat digunakan baik Hibrid H dan Hibrid I karena keduanya mempunyai tongkol besar.
    Masing-masing pemulia atau perusahaan yang menemukan varietas hibrida baru ini akan dilindungan secara hukum sebagaimana diatur dalam undang-undang perlindungan varietas tanaman (PVT), tentunya harus menempuh serangkaian persyaratan yang diatur oleh peraturan menteri pertanian, tentang tatacara pendaftaran varietas tanaman.
    Sedangkan pada ternak puyuh sampai saat ini belum ada pemulia atau perusahaan yang terdaftar secara resmi adanya strain pada puyuh, sehingg sekarang ini yang ada peraturan setingkat menteri yaitu peraturan pertanian Menteri Pertanian No. 54/2010 tentang tatacara pembibitan puyuh yang baik. Bukan undang-undang atau peraturan mengenai perlindungan strain pada puyuh atau yang sejenisnya.
    Sedangkan pada ternak ayam ras sdh ada strain-strain yang beredar saat ini dan sudah dipegang oleh perusahaan asing raksasa berasal dari luar sana; seperti Strain AA dari USA, Ross dari inggris, Cobb dari Australia, Lohman dari German, hybro dari Belanda, Isa dari Perancis dan lain-lain. Dengan berbagai keunggulan masing-masing.
    Demikian sekelumit informasi yang pernah saya dapat, bila ada pendapat lain silahkan mengoreksi atau member tanggapan lain. Terimakasih PUYUH JAYA. Wassalamu alaikum.

  3. bagi para juragan-juragan sekalian..ane mo nunpang promo nih…ane dah coba nyilangin puyuh type diamond jenis GPS,PS,dan FS…kwalitasnya kalo dibanding dengan jenis premium ato puyuh yang sering di budidayakan para peternak pada umumnya,memang jauh banget.banyak sekali kelebihan- kelebihan puyuh jenis ini.disamping produktifitasnya juga tingkat stressnya sangatlah rendah.kalo juragan juragan sekalian mo coba buktikan ane juga sediakan tuh bibit buat juragan2 semua.untuk info lbih lanjut bisa hub 081904013999 ato add facebook paitenan…maturnuwun

  4. ini dia benih Jagung Hibrida yang menjanjikan petani.

Silahkan Menuliskan Komentar di Sini [Trima Kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s