Beternak Puyuh, Penghasilan, dan Waktu Kerja yang Dibutuhkan

Menghitung penghasilan. Salah satu yang penting juga diperhatikan dalam beternak puyuh. Terutama melihat juga pada lama waktu aktivitas kerja di kandang, alias berapa waktu yang dibutuhkan. Tentu semakin banyak populasi, semakin banyak juga waktu pengerjaannya.

Diharapkan setelahnya bisa menjadi gambaran bahwa usaha beternak puyuh ini akan menjadi sampingan sebagai tambahan penghasilan, atau menjadi usaha pokok, diukur dari populasi dan waktu yang dibutuhkan.

Biasa menjadi pertanyaan dari yang mulai melirik dan berminat beternak puyuh (dalam bahasan ini adalah puyuh petelur), “berapa penghasilan usaha beternak puyuh?”

Jawabannya tentu juga pertanyaan, “mau piara berapa ekor?”

Setelah dijelaskan penghasilan beternak puyuh upamanya untuk populasi 1000 ekor, katakanlah rata-rata per-minggu Rp 150 ribu (dihitung dari rata-rata harga telur sedang baik dan sedang buruk, termasuk di dalamnya ada pengembalian modal). Silahkan juga diperbandingkan untuk populasi 2000 ekor puyuh di analisa usaha puyuh.

“Wah, sedikit sekali ya penghasilan beternak puyuh, nggak jadi aja ah… Mending tukang batu lagi, per-hari Rp 50 ribu.”

Mohon maaf sebelumnya. Dialog yang sepertinya imajiner tersebut mengenai memperbandingkan penghasilan kira-kira beternak puyuh dengan penghasilan bekerja menjadi tukang batu biasa didengar di sekitar saya di desa.
Betul memang, gambaran penghasilan beternak puyuh biasa saya pahitkan terlebih dahulu. Daripada diberi gambaran yang muluk-muluk, pas harga jatuh, peternaknya mengeluh ke yang ngomongi. Tidak apa-apa penghasilan memiara populasi 1000 ekor puyuh masih kalah dengan penghasilan tukang batu: dihitung harian.

Tapi nanti dulu….

Coba dibahas lebih lanjut. Setelah itu baru bisa mengambil kesimpulan. Setelahnya akan sebagai penghasilan pokok, penghasilan tambahan, usaha pokok, atau usaha sambilan dari beternak puyuh ini.

Melihat dahulu pada bagaimana pekerjaan tukang batu, terutama lama waktu yang dibutuhkan.
Katakanlah penghasilannya per-hari Rp 50 ribu.
Masuk kerja jam 8 pagi. Istirahat jam 12 sampai jam 1 siang. Lanjut kerja sampai jam 4 sore. Lama waktu kerja: 7 jam per-hari.
Ada 6 hari kerja. Berarti per-minggu 6×7 : 42 jam waktu kerja. Penghasilan Rp 50 ribu x 6 : 300 ribu. Berarti per-jam dihitung bayarannya Rp 300 ribu dibagi 42 jam : Rp 7.143 per-jam.

Bagaimana dengan beternak puyuh populasi 1000 ekor. Penghasilan setelah dipotong pengembalian modal katakanlah jadi Rp 100 ribu per-minggu – apkiran sudah termasuk pengembalian modal. (Dihitung pahitnya).
Lama waktu pengerjaan, diutamakan setelah puyuh naik kandang dan sudah bertelur.
Untuk populasi 1000 ekor puyuh, katakanlah untuk dua kandang, memberi pakan dan minum membutuhkan waktu pagi 15 menit, sore 15 menit. Menata telur 30 menit. Total perhari membutuhkan waktu 1 jam x 7 hari penuh, total dalam seminggu jadi 7 jam waktu kerja.
Penghasilan Rp 100 ribu dibagi 7 : Rp 14.285 per-jam.

Sudah bisa dibandingkan penghasilannya antara yang per-jam Rp 7.143 dengan yang per-jam Rp 14.285? Banyak mana?

Jika bicara risiko kerja, semuanya mempunyai risiko. Bahkan untuk yang tukang batu itu belum dihitung kalau nglaju, risiko kerja, jajan, ketahanan fisik, dll.
Sama juga dengan beternak puyuh, risiko kematian puyuh, harus pakai modal, dll.
Karena itu di sini hanya bahasan mengenai lama waktu kerja dan penghasilan dihitung pe-jam.

Selanjutnya bahkan bisa digabung, melihat pada lama waktu kerja yang dibutuhkan untuk aktivitas beternak puyuh yang hanya 1 jam per-hari, di luar itu bisa kerja yang lain. Berarti cocok juga menjadi kerja usaha sampingan untuk menambah penghasilan.

Mari beternak puyuh.

Salam
[Puyuh Jaya]

9 responses to “Beternak Puyuh, Penghasilan, dan Waktu Kerja yang Dibutuhkan

  1. bagaimana jika waktu kerja peternak puyuh sama dengan waktu kerja tukang batu? yaitu 7 jam? harus punya 7000 ekor kayaknya ya, dan bisa menghasilkan 14 kali lipat dan penghasilan tukang batu.

    namun peternak puyuh dan tukang batu sama2 pekerjaan yg mulia, suatu pekerjaan sebenarnya jangan dilihat dari penghasilan, tapi lihatlah niat mulianya.

    tukang batu bekerja dengan modal tenaga, tidak ada resiko rugi seperti peternak puyuh ketika harga telur anjlok, namun bagi tukang batu justru nyawa yg ditaruhkan.

  2. Mau bagi cerita, mungkin ada manfaatnya..

    Saya termasuk pemula dalam dunia perpuyuhan, dan puyuh saya jumlah selalu berubah-ubah, maklum banyak yang mati dan saya sembelih

    Mengapa jumlah berubah-ubah?
    Itu karena saya juga menetaskan sndiri dalam jumlah yang tidak terlalu banyak, sehingga agak susah untuk dikalkulasi kerugian atau keuntungannya.
    Pada awal-awalnya saya merasa tidak seimbang antara penghasilan dan pembelian pakan apalagi bibit dan pembuatan kandang.
    Hal ini juga dikarenakan adminitrasi saya amburadul.

    Tapi saya bisa memberikan gambaran singkat dengan menghitung pakan yang saya beli habis 1 sak/50 kg selama 3 hari telur yang dihasilkan rata2 18 kg (sekitar 750 ekor)
    Jadi kalau harga Rp 15.000 x 18 kg = Rp 270.000
    Sedangkan harga pakan 1sak Rp 192.000

    Jadi keuntungan kotar tiap 3 hari rata2 =Rp 88.000
    Sehingga rata2 tiap hari ada sisa Rp 30.000

    Jadi kesimpulan saya kalau kita memerlihara jumlah sedikit belum begitu rerasa keuntungannya.
    Maka sarannya kalau ingin betul2 mengeluti ternak puyuh, sekalian yg banyak dan jangan setengah-setangah

    Seperti Mas Puyuh Darussalam, Pak Sholihuddin, Pak Arif dan teman2 lain yang sudah puluhan tahun menggeluti perpuyuhan.

    Demikian sedikit gambaran ternak puyuh yang belum berhasil dengan sempurna
    Salam puyuhjaya, teruskan perjuanganmu dalam membudayakan makan telur puyuh dan menternak masyarakat puyuh

    • Terima kasih cerita pengalamannya, Pak Komari. Harap maklumnya baru menanggapi.
      Cerita yang menarik. Semoga menyemangati untuk yang minat atau yang sudah bergelut di bidang ternak puyuh, khususnya petelur.
      Mungkin nantinya bisa dipertimbangkan, akankah usaha ini dijadikan semacam agroindustri, sekedar hobi, maupun untuk selingan penghasilan.

      Terima kasih semangatnya. Semoga seluas-luasnya dapat memberikan manfaat lewat dunia maya.

      Salam semangat.

  3. permisi pak komari,puyuh bisa dikawinkan setelah berumur berapa y?pak puyuh atau rekan-rekan peternak puyuh tolong infonya dong mengenai umur puyuh yang bgs untuk dikawinkan.thanks

    • biasanya puyuh dewasa kelaminnya umur 2,5 bulan pak, saya biasa melakukan persilangan setelah umur puyuh 2,5 bulan

      • Nah, ini jadi uneg2 saya sejak lama juga.

        Bagaimana kualitas bibit puyuh hasil silangan induk jantan umuran 2,5 bulan dibandingkan dengan apabila induk dan jantan sudah berumur 6 bulan misalnya? Kualitas bibit puyuhnya beda atau tidak?

        Trima kasih.

  4. upami.ngingu.puyuh.sarebu.sabaraha.penghasillanna.sadinten?blz

Silahkan Menuliskan Komentar di Sini [Trima Kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s