Untuk Bisa Menulis Apa Harus Bahagia?

Kalau tidak ditulis kok jadi pikiran terus. Ya ditulis sajalah, biar plong… Hehehe.

Pernah lagi dalam suatu forum, ada yang mengetengahkan pendapat pribadi, bahwa untuk menulis haruslah bahagia. Ketika sudah tenang. Tidak ada pikiran yang mengganggu. Tidak ada beban masalah berat. Menulis menjadi nyaman.

Menurut pendapat itu, dengan rasa bahagia, tentram, dan tenang, maka hasil tulisan akan bersih. Mencerminkan jiwa yang bersih juga.

Ah… Apa iya harus begitu?

Menulis harus menunggu dulu bahagia? Sampai kapan? Ya tidak nulis-nulis. Apa saya menulis ini semua dalam keadaan tentram? Tenang? Bahagia?
Apa yang Anda rasakan ketika membaca tulisan-tulisan saya?

Apakah tulisan saya berasa sebagai tulisan orang yang bahagia? Atau mencerminkan rasa sang penulis yang jiwanya tidak bersih?

Bagi saya, tidak perlu menunggu bahagia terlebih dahulu untuk menulis. Biarpun saya tidak berani berangan-angan menjadi penulis tenar. Tapi tidak ada salahnya kan saya berpendapat. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, beda isi kepala boleh juga beda pendapatnya.

Sekarang coba kilas balik saja pada kisah penulis-penulis tenar. Bahkan yang buku-bukunya best seller, atau menjadi buku-buku yang legendaris. Apakah beliau-beliau waktu itu tidak dalam ketertekanan batin, kepenatan jiwa, sedang ditimpa masalah berat? Melihat pada beberapa kisah, ada yang ditulisnya sedang dalam penjara atau sedang dalam pembuangan. Ada yang menulisnya ketika keadaan ekonomi sedang sangat terpuruk. Ada yang menulisnya ketika badan sedang tertimpa sakit parah. Bisa jadi begitu kan?

Apakah beliau-beliau waktu itu sedang bahagia ketika penderitaan mendera?
Bisa jadi tetap bahagia. Tapi juga bisa jadi kebahagian itu sedang lenyap entah kemana ketika sedang menulis.
Menurut saya, bahagia tidak bahagia bukan ukuran untuk menulis atau tidak mau menulis. Atau bahkan menjadi penentu bisa tidaknya menulis.

Semangat menulis, beda sisi dengan rasa bahagia. Di situlah keinginan menuangkan apapun terwujud. Biarlah dianggap jiwanya tidak bersih. Biarlah dianggap tulisan sambil tidak bahagia tidak ada artinya. Atau mungkin, ada definisi tersendiri mengenai rasa bahagia sebagai landasan dalam menulis?

Entahlah… Pokoknya menulis saja.

Selamat bermalam minggu. Mari menulis.

Silahkan Menuliskan Komentar di Sini [Trima Kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s