Memotong Paruh Burung Puyuh: Perlu atau Tidak? [Produktivitas]

Dulu pernah saya membaca sebuah artikel, mengenai salah satu kebiasaan burung puyuh, yaitu mematuk-matuk. Biarpun sudah kenyang, hobi mematuk-matuk itu sepertinya tidak bisa ditinggalkan. Termasuk mematuk-matuk bulu milik temannya, yang kadangkala tidak karena rontok, bulunya bisa habis tinggal sedikit.

Mungkin karena kebiasaan burung puyuh yang seperti itu, lantas beberapa peternak puyuh yang saya kenal, memotong paruh burung puyuh saat naik kandang atau baru saja datang.

Sebenarnya perlu atau tidak prosesi pemotongan pucuk paruh burung puyuh tersebut?

Parameter dari perlu atau tidaknya, barangkali bisa diukur dari kesehatan dan produktivitas. Dua hal yang juga berkaitan erat dalam beternak burung puyuh, khususnya petelur. Bisa jadi dengan cara memotong paruh burung puyuh ini termasuk menjadi salah satu cara meningkatkan produktivitas puyuh.
Karena itu, coba kita bahas.

Jika paruhnya dipotong, yang mana burung puyuh tidak bisa lagi mematuk-matuk bulu temannya. Yang berarti juga tidak bisa lagi mengakibatkan luka (mungkin rasanya perih ya).
Kemudian burung puyuh dengan bulu yang cenderung lebih komplit, ternyata lebih sehat alias stamina terjaga tanpa terganggu karena sembari menahan rasa sakit, yang otomatis juga diikuti dengan produktivitasnya meningkat. Maka jawabannya adalah “perlu”.

Namun untuk pembahasan kali ini, yang paling perlu adalah dengan memperbandingkan.

Mungkin kalau dalam dunia ilmiah ada semacam studi komparasi. Dengan tolok ukur memperbandingkan dua kelompok burung puyuh, yang satunya dipotong paruhnya. Satunya lagi tidak dipotong.

Dalam waktu yang sama. Jumlah sama. Cara pemeliharaan juga sama. Sumber bibitnya sama. Dan saya kira tidak hanya sekali. Mungkin dua atau tiga kali periode.
Barulah bisa dicapai konklusi yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Untuk menjadi pegangan dalam beternak puyuh, syukur jika menjadi solusi dari tanya mengenai cara meningkatkan produktivitas burung puyuh petelur.

Opsi yang kedua, jika burung puyuh tidak dipotong paruhnya, ternyata hasil produksi, umur produktivitas, maupun ketahanan usia sama saja dengan yang dipotong. Maka jawabannya adalah “tidak perlu”.

Yang pasti donx, perlu atau tidak perlu memotong paruh burung puyuh?

Tanggung jawab ilmiah ialah manakala kita dihadapkan pada suatu persoalan yang termasuk lingkup disiplin ilmu kita, dan turut andil memecahkan persoalan tersebut tanpa pamrih. IMHO.

Lain lagi dengan yang ini:

Orang yang acuh dan tidak peduli adalah jika mempunyai pengalaman, kemudian sudah menyimpulkan suatu kebenaran, jika melihat ada persoalan muncul yang pemecahannya adalah hasil dari pengalamannya. Tapi kemudian hanya berdiam diri membiarkan masalah itu mengambang, karena tidak ada keuntungan materi. IMHO.

Karena itu, semoga ada diantara para pakar puyuh, maupun yang berpengalaman, atau siapa saja yang mempunyai pendapat, silahkan berkenan memberikan masukan atas perihal ini: Perlu atau tidak memotong paruh burung puyuh?

Terima kasih sebelumnya.

Salam hangat dan hormat selalu.
[Puyuh Jaya]
Email: puyuhjaya@gmail.com

Iklan

5 responses to “Memotong Paruh Burung Puyuh: Perlu atau Tidak? [Produktivitas]

  1. dari beberapa buku tentang ternak puyuh yg pernah saya koleksi, karena kebiasaan beli buku terbaru tentang ternak di Gramedia, serta buku panduan ternak puyuh dari Medion, disitu di jelaskan perlu pemotongan paruh, bahkan sampai dua kali, yaitu sebelum umur 1 minggu dan sebelum masa produksi bertelur di mulai. Namun, alasannya cuma satu, yaitu mengurangi kanibalisme, sperti mematuk puyuh yg lain atau bahkan mematuk telornya sendiri.

    kedua, saya pernah menemukan penelitaian ilmiah dari seseorang, saya baca itu di internet pada waktu itu, disana dijelaskan dari penelitian, bahkan di penelitian itu ada beberapa waktu dimana bagusnya memotong paruh, saya lupa kapan waktu terbaiknya. Namun disini lebih menekankan ke fungsi memotong paruh untuk konversi pakan dan pertumbuhan serta peningkatan produktivitas puyuh.

    dari itu sy dulu aktif memotong paruh, yaitu ketika sebelum umur 1 minggu dan sebelum memasuki masa produksi telur (30-40 hari). Namun yg saya rasakan sama, tidak ada perbedaan antara sudah di potong atau tidak, tapi aktivitas itu selalu saya lakukan, ya selama 3 tahunan lah.

    Namun, setelah saya kenal dengan Pak Slamet (Slamet Quail Farm) dia menekankan, katanya “dari awal saya beternak burung puyuh, tidak seekorpun puyuh saya di potong paruhnya, toh jika jika pun ada perbedaan antara dipotong dan tidak, itu tidak terlalu mencolok, justru rugi kerjanya”.

    mulai dari itu, sampai sekarang saya tidak pernah lagi memotong paruh puyuh saya, bahkan alat pemotong paruh “debreeker” sudah saya jual.

    kesimpulannya:

    -> ada perbedaan antara dipotong atau tidak, tapi kecil sekali, justru hasilnya tidak sesuai dengan jerih payah kita memotong paruh satu2.
    -> jika pemotongan tidak pas, justru paruh yg tumbuh lagi cepat panjang, dengan itu kita akan sering memotong paruh puyuh lagi, karena jika tidak di potong justru puyuh kesulitan mematuk pakan karena paruh yg tumbuh panjang dan melengkung.
    -> jika alasannya produksi dan kanibalisme, dengan pemberian pakan yg cukup dan nutrisi juga cukup, itu sudah mengurangi kanibalisme dan produktivitas terjaga.

    tambahan:
    dulu saya pernah baca artikel, lagi2 di internet, saya lupa, link nya pa, ato di blog ini ya, sy benar2 lupa.
    di atikel itu dijelaskan bahwanya kenapa puyuh mematuk bulu puyuh yg lain.
    di artikel itu dijelaskan bahwasanya puyuh membutuhkan cairan yg saya lupa namanya untuk dikonsumsi, nah jika pakan yg kita berikan kurang mengandung zat itu maka sebagai gantinya puyuh mematuk bulu puyuh yg lain karena di bulu itulah terdapat zat yg dibutuhkan tersebut.

    ND: ini hanya pengalaman saya, jika teman2 yg lain berbeda pendapat silahkan berkomentar, agar peternak yg lain mengerti fungsi pemotongan paruh sebenarnya.

    THANKS . . .

    • Wah, lengkap sekali ulasannya. Terima kasih.
      Ada yang saya kutip:

      “dari awal saya beternak burung puyuh, tidak seekorpun puyuh saya di potong paruhnya, toh jika jika pun ada perbedaan antara dipotong dan tidak, itu tidak terlalu mencolok, justru rugi kerjanya”.

      Waktu dan tenaga itu juga menjadi pertimbangan saya kenapa saya malah belum pernah memotong paruh burung puyuh.
      Tapi sekiranya imbang dengan “pengeluaran”, mungkin besok-besok saya sempatkan.

      Lebih-lebih kalau ada alatnya khusus, wah, carinya dimana. Pikir saya cuma pakai gunting 🙂

      Terima kasih.
      Semoga menjadi pertimbangan.

      • alatanya pake debreeker mas, yg paling murah 1jt keatas, bahkan ada yg sampai 10 jt.
        atau lebih hemat lagi ada yg pakai setrika dan soder.
        bahkan saya sebelum punya debreeker saya malah pakai pemotong kuku, 🙂

  2. saya lihat di youtube potong paruh tu caranya dngn dibakar ujung paruhnya kang pake lilin

Silahkan Menuliskan Komentar di Sini [Trima Kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s