Mencampur Pakan Puyuh dengan Bekatul (Dedak Halus), Baik atau Tidak???

Mencampur pakan. Ya, dulu pernah saya mendengar istilah itu sebelum beternak puyuh, yaitu di ternakan ayam pedaging (dicampur jagung giling). Dan setelah menjalani sendiri usaha ternak puyuh, malah lebih sering mendengar ungkapan mencampur pakan puyuh tersebut. Apa maksudnya?

Mencampur pakan puyuh berarti mencampur pakan pabrikan dengan bahan-bahan alternatif. Yang paling populer adalah bekatul (dedak halus), baru setelah itu jagung giling, polar, bahkan ada yang mencampur juga dengan nasi aking.

Tujuannya tentu untuk meningkatkan keuntungan peternak. Mengenai hal tersebut bisa lebih dipahami setelah menghadapkan antara harga telur puyuh dengan harga pakan puyuh.
Dimana mencampur bahan pakan alternatif yang lebih murah dengan pakan buatan pabrik bisa merupakan solusi, apalagi ketika harga telur puyuh sedang didera cobaan.

Khusus pada postingan kali ini lebih akan mengetengahkan “bagaimana” jika mencampur pakan puyuh pabrikan dengan bekatul (dedak halus). Pembahasan ini saya ambil dari komentar yang dituliskan Bp Puyuh Jepang di halaman “PAKAN TERNAK DAN PERMASALAHAN” blog ini. Jadi bukan tulisan saya pribadi.

Silahkan disimak:

Saya ada sedikit info masalah seluk beluk dedak halus atau bekatul.

ADA APA DENGAN BEKATUL ????? PADA PENGGUNAAN MAKANAN PUYUH.!!!!!!
Mari kita kutip dari beberapa ahli nutrisi, biokimia dan lain-lain.

Bekatul dihasilkan dari penggilingan kembali beras yang sudah pecah kulit dan terdiri dari lapisan kutikula sebelah luar dan sebagian kecil lembaga. Komposisi bekatul menurut sumiarsih (1987) terdiri dari aleoron, lapisan perikarp,embrio dan sebagian endosperm yang hancur berupa tepung yang dihasilkan dari penggilingan padi.

Sifat-sifat buruk / jelek bekatul:

1. Kandungan protein dan asam amino bebas yang rendah.

2. Mudah menjadi tengik dalam penyimpanan, penggunaan terbatas karena bila berlebihan maka akan menghambat pertumbuhan.

3. Penggunaan pada dosis lebih dari 300gr/kg pakan menurunkan kecernaan bahan kering, protein, asam amino,

4. Menghambat pertumbuhan puyuh,kandungan asam fitatnya tinggi, sehingga daya cernanya rendah (Safitri, 2004)

Karakteristik asam fitat:

– Asam fitat (heksa fosfat inositol) merupakan senyawa polihidroksi yang berpotensi mengikat beberapa ion ligan seperti Zn, FE, Mg, Mn, Ca, dan P di dalam saluran cerna, sehingga ion ligan ini tidak dapat dimanfaatkan dalam metabolisme.Pawirohasono, 1996)

– Asam fitat mempunyai sifat sulit dalam air, tahan terhadap panas dan dengan adanya enzim fitase dapat terhidrolisis menjadi inositol dan asam fosfat. Asam fitat selain dapat berikatan dengan mineral dapat juga berikatan dengan protein, sehingga membentuk fitat-protein (Martin dkk, 1998)

– Fitat –protein mempunyai sifat tidak larut karena terjadi bentuk chelat, yaitu suatu senyawa yang mempunyai sifat tidak dapat larut.

– Makin besar asam fitat dalam makanan ternak, maka semakin kecil jumlah protein yang dapat dicerna (Maryam, 1997).

DALAM LANJUTAN CERITA INI, BAGAIMANA PENDAPAT PARA AHLI CARA MENGOLAH BEKATUL INI SEHINGGA DAPAT DIBERIKAN PADA PUYUH DALAM PORSI YANG BESAR MUNGKIN BISA SAMPAI 40% DALAM CAMPURAN MAKANAN PUYUH (Luar biasa).

– – – – –
Saya ikut menunggu pencerahan dari Bp Puyuh Jepang bagaimana proses agar mencampur pakan puyuh dengan bekatul (dedak halus) bisa tetap aman dan tetap menguntungkan peternak dari berbagai segi.

Semoga berkenan.
Terima kasih.

Iklan

Silahkan Menuliskan Komentar di Sini [Trima Kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s