Kisah Anak Muda dengan Cita-Cita nan Mulia

Pemuda, tulang punggung bangsa. Anak muda, adalah generasi penerus bangsa. Begitu beberapa ungkapan yang menggambarkan sosok pemuda, anak muda, dengan segenap kegagahan, kecerdasan, dan semangatnya.
Bahkan presiden pertama RI pernah mengungkapkan: “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” . (Bung Karno — dari berbagai sumber.)

Demikian juga dengan salah satu anak muda yang saya kenal ini. Umurnya 23 tahun. Dibanding saya, lumayan juga selisihnya. Maksudnya masih lebih tua saya. Mungkin dulu saya sudah bisa naik sepeda, anak muda ini baru dilahirkan ibunda-nya.

Jauh di sana, di daerah Jember, Jawa Timur. Katanya, tempat tinggalnya tidak begitu jauh dari pantai. Tidak ada 10 kilometer. Sehingga hawa pantai yang panas, masih begitu terasa. Begitu anak muda ini bercerita.

Satu yang saya suka, adalah semangatnya. Penuh dengan cita-cita yang mulia. Yaitu ingin ikut andil memajukan negara dan bangsanya. Terutama keinginan berbagi, memberikan sebanyak-banyaknya informasi positif di ranah maya. Pengetahuan dan pengalaman, disumbangkan di dunia internet. Sehingga alam cyber ini akan semakin dipenuhi dengan hal-hal yang menunjang kemanfaatan, untuk sebesar-besar kemakmuran bersama.

Kemampuan dan keahliannya pada pada bidang ternak unggas, khususnya burung puyuh, tidak perlu ditanya lagi. Sudah jelas jauh di atas saya. Mulai dari pembibitan, perawatan, sampai penanganan jika ada masalah. Begitu dikuasainya.
Maklumlah, biarpun muda, namun pengalaman beternaknya sudah belasan tahun. Sedangkan saya baru seumur jagung.

Selain intens pada bidang perpuyuhan, yang mana hal itu sudah terekomendasi dan telah bekerjasama dengan dinas peternakan (pusat?), anak muda berdarah Madura ini juga perhatian pada ternak unggas yang lain, seperti ternak ayam pedaging, ternak bebek, dll. Bahkan ternyata bukan hanya unggas, ternak jangkrik pun tidak luput dari perhatiannya.

Kisah selengkapnya, bisa anda baca di http://muda.kompasiana.com/muda/2011/11/12/kisah-anak-muda-dengan-cita-cita-mulia

Terima kasih untuk menyempatkan berkunjung.

Iklan

9 responses to “Kisah Anak Muda dengan Cita-Cita nan Mulia

  1. Berkunjung pagi2 hanya untuk memberi senyuman persahabtan 🙂

  2. Salam kenal Mas Arif yang anak desa yang berfikir anak kota
    Saya salut atas kerja kerasnya selama ini semoga banyak pembaca yg termotivasi untuk mencobanya.
    Saya berharap forum ini terus berjalan walaupun saat ini puyuh lagi mengalami kelesuan dan media ini salah satunya yg bisa bantu meyesesaikan terutama para peternak yang sudah berpengalaman.
    Semoga Alloh melindungi dan memberi kekuatan pada kita semua
    Aminnnn … aminnnn

    • Salam kenal, dengan senang hati, Pak Komari.
      Terima kasih telah berkenan mengunjungi blog sederhana ini. Saya sebenarnya terharu atas apresiasi Bapak. Terima kasih juga untuk pemberian spirit. Entah bagaimana membalas kebaikan Bapak yang berkenan juga menyempatkan memberikan komentar, tanggapan, maupun advis di blog sederhana ini.
      Semoga Allah SWT selalu memberikan berkah, kebahagiaan, kesejahteraan, ketentraman bagi diri dan keluarga Bapak Komari.
      Senang juga bisa kenal Bapak, Mas Sholehudin, Mas Hamdani, dan banyak lagi yang berkenan meninggalkan jejak di sini.

      Harga telur puyuh yang sedang lesu, semoga tidak membuat lesu semangat beraktivitas positif apapun juga. Tak ada pesta yang tak berakhir, tak ada badai yang tak reda. Semoga keadaan perpuyuhan segera pulih dalam kondisi yang baik. Amin amin . .

      Salam hangat sejahtera selalu.

      • “tak ada pesta yang tak berakhir, tak ada badai yang tak reda”, semuanya tergantung pada diri kita menyikapinya, sungguh kata2 yang bisa membuat ubun2 ini merinding 🙂
        alhamdulillah daerah jember umumnya, kec. balung khususnya puyuh masih bermain di harga 16-17rb/kg, beda jauh sama blitar dan pare yg sudah anjlok diharga 10rb mulai 3 hari yg lalu.
        diperkirakan ini disebabkan banyaknya pesta pernikahan dibulan ini, rata di kec. balung (di daerah saya) orang nikah 48 rumah/harinya. itu artinya kebutuhan telur ayam meningkat, hingga telur ayam didaerah saya mencapai harga 14-15rb/kg, ini harga peternak ya, bukan harga pasar.
        selamat pada pternak ayam, bersabar untuk pternak puyuh.

        • Begitulah, Mas Sholehudin. Latian mengambil pelajaran dari hidup. Ada siang ada malam. Ada badai ada pesta. Agar kita tidak kaget dengan berbagai kondisi.

          Ikut seneng, Mas. Harga masih bertahan di 16 ribuan. Ikut prihatin juga pada harga yang demikian turun drastis. Semoga tidak lama-lama.

          Wah, sama juga ya Mas. Daerah saya juga kalo pengantinan kadang ada yang memakai telur puyuh, kadang juga tidak. Mungkin faktor selera pengatur konsumsi ya 🙂

          Ikut mengucapkan selamat dan berusaha bersabar.

  3. justru ketika kawinan datang, banyak para tuan rumah memesan jauh-jauh hari telur puyuh dipeternakan saya.
    ya alhamdulillah lah . . . 🙂

  4. anak muda skrg, marilah didukung dan diberi ruang utk wirausaha sebaik2nya 😀 hehehe…..

Silahkan Menuliskan Komentar di Sini [Trima Kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s