Mau Nulis Apa? Menulis Saja Apa yang Dibatin

Pada waktu sekolah dasar dulu, pernah diajarkan tentang membatin dalam membaca. Seiring perkembangan waktu, menginjak kelas yang lebih tinggi, hingga SMP, SMU, sampai Perguruan Tinggi, bahkan yang pasca sarjana, membaca ketika sedang belajar: dengan membatin. Membaca koran, majalah, buku, tulisan apapun di internet: hampir semuanya dengan membatin. Membacanya dibatin.
Sama juga dengan menulis. Menuliskan apa yang dibatin. Suara batin. Mungkin termasuk suara hati.

Sampai sekarang pun saya masih sering merasa sulit mau menulis. Karena itu masih tahap belajar menulis. Tapi saya tekadkan untuk terus menulis. Tentu saja dengan mencari-cari kesempatan di tengah-tengah penuhnya waktu ngurusi puyuh-puyuh peliharaan.

Biarpun masih merasa sulit, tapi punya prinsip agar merasa mudah dalam menulis. Prinsip itu menjadi anggapan saya, bahwa menulis adalah “hanya” menuliskan suara batin menjadi nyata, menjadi sebentuk tulisan. Terangkai dari huruf demi huruf, menjadi kata, lantas kalimat, paragraf, sampai menjadi suatu yang mungkin boleh dianggap artikel. Dengan demikian, ketika merasa sulit mau menulis, bisa menjadi merasa mudah. Bagaimanapun hasilnya.

Membatin apa? Nah, ini yang bisa menjadi topik dari tulisan. Membatin bisa berasal dari rekaman pikiran, dari ide pikiran, pendapat yang merupakan hasil pikiran, maupun perasaan sebagai wujud suara hati. Senang, sedih, gembira, kecewa: semua bisa dibatin, dan menjadi nyata ketika dituliskan.

Terinspirasi dari sebuah tulisan seorang kompasianer, saya juga merasakan hal yang sama. Menulis karena malu. Apa hubungannya menulis dengan malu?

Menulis adalah mengungkapkan apa yang dibatin. Sama juga dengan bicara. Lebih sering juga menjadi ungkapan apa yang dibatin. Biarpun tidak semua yang dibatin musti menjadi bahan bicara atau bahan tulisan.

Terkait dengan malu, saya termasuk pemalu jika bicara di depan umum. Karena itu saya menulis. Dengan menulis, tidak langsung berhadapan dengan umum. Bahkan bisa diedit, atau mungkin dihapus.

Nah, daripada dibatin? Kena apa tidak ditulis saja? Sekarang ada blog. Silahkan semua pikiran dan perasaan diungkapkan lewat dibatin, yang kemudian dituliskan, menjadi postingan demi postingan.

Terima kasih, Mr WordPress.

Iklan

Silahkan Menuliskan Komentar di Sini [Trima Kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s