Sistem Pembelian Telur Puyuh: Pilih Butiran atau Kiloan?

Awal dulu beternak puyuh, oleh PT kemitraan, hasil telur puyuh dibeli dengan sistem butiran. Dalam satu ikat sejumlah 900 butir terhitung bijian. Akan tetapi sejak 2010 sistem pembelian dengan butiran dirubah menjadi sistem kiloan. Tentu saja menambah kerjaan petugas rutin (mandor dkk) di lapangan. Sebelum diangkut, ditimbang terlebih dahulu.

Sempat diterangkan dalam pertemuan kelompok, bahwa secara nasional memang pembelian yang lazim adalah dengan sistem timbangan. Begitu pula di blog lama, ada juga komentar yang menanyakan harga dengan hitungan kiloan.

Apa untung dan ruginya untuk peternak? Pilih dibeli dengan sistem butiran atau kiloan?

Sebenarnya bagi peternak, saya kira tidak ada perbedaan yang signifikan antara pembelian dihitung butiran maupun kiloan. Akan tetapi memang dalam sistem butiran, peternak lebih bebas dan lebih bisa menentukan keuntungan tanpa berpikir kualitas telur. Mau telur itu “berisi” atau tidak, harganya tetaplah sama. Lain dengan sistem kiloan, jika telurnya tidak berbobot, harganya menjadi murah.

Hehe, sepertinya memang lebih menguntungkan sistem butiran ya? Sebab pada sistem kiloan, peternak lebih tertuntut untuk menjaga kualitas telur dengan diantaranya selalu memberi pakan yang terbaik demi untuk mendapatkan produksi telur yang berbobot. Berbobot di sini lebih menjadi parameter bagusnya kualitas telur.
Sedangkan menjaga pemberian pakan yang baik, otomatis meminimkan campuran atau bahkan tidak mencampur sama sekali. Maksudnya mencampur PYP dengan pakan alternatif non pabrik.

Pada pembelian dengan sistem kiloan, ada juga untungnya. Jika menghasilkan telur puyuh berkualitas (parameter bobot/berat telur), harga perbutirnya akan lebih tinggi. Dan biasanya cenderung tidak ada komplain dari konsumen. Katanya, komplain tersebut biasa pada telur puyuh dengan terlalu banyak campuran pakan alternatifnya (dedak/bekatul, jagung giling). Sehingga kulit telur (kerabang) lebih tipis, mudah retak, isi tidak penuh, kuningan lebih pucat, dll.

Namun menurut hemat saya, memang lebih tergantung pada pasarannya. Jika konsumen cukup puas dengan telur puyuh hasil pakan campuran, ya dipertahankan saja, toh lebih menguntungkan.

Bagaimana jika anda adalah konsumen? Pilih membeli dengan butiran atau kiloan?

Salam puyuh Indonesia 

Iklan

9 responses to “Sistem Pembelian Telur Puyuh: Pilih Butiran atau Kiloan?

  1. jika dari segi profesional, tidak ada bedanya antara butiran dan kiloan jika mengacu pada standar telur,
    Jika butiran, ada standar harga dimana tiap standar memiliki harga jual sama
    Standar a: 1 kilo berisi kurang dari 93 butir, dengan harga butiran paling mahal
    Standar b: berisi 94-100 butir, dengan harga butiran yg lebih murah
    Standar c: 1 kilo berisi 100 butir lebih, dengan harga butiran paling murah…
    Sistem butiran dan kiloan bisa juga digunakan menurut letak geografis peternak
    Kiloan lebih bagus di praktekkan di daerah dataran rendah
    Butiran di daerah pegunungan…

    • terima kasih apresiasinya, Pak Sholehuddin.
      saya baru tau ternyata sistem butiran pun mengacu pada jumlah dalam hitungan kilo.
      sebab dulu PT beli dari peternak, hanya benar-benar dihitung butiran, jadi kalau telurnya berat karena pakan murni, peternak malah itungannya rugi. karena itu kalau dulu mending nyampur 🙂

  2. wahh…terimakasih banyak bapak-bapak selalu update.
    btw, boleh tahu dimanakah saya bisa hubungi PT yang bisa kemitraan tentnag beternak Puyuh ya ?adi
    saya domisili di Malang, jawa timur.
    terimakasih sebelumnya

    salam,
    Mulyadi

    • Sama-sama terima kasih, Pak Mulyadi. Saya merasakan manfaatnya dengan menulis. Banyak dari komentar, yang menambah wawasan mengenai perpuyuhan di Indonesia khususnya.
      Saya senang bisa bercerita, berbagi pengalaman beternak puyuh.
      Semoga selalu bisa update, diberi kesempatan dan waktu yang bermanfaat.
      Saran, kritik, dan berbagai masukan, senantiasa saya harapkan.

      Mengenai kemitraan puyuh di Malang, mohon maklumnya, saya tidak paham. Adapun kemitraan yang saya ikuti, belum/tidak menjangkau sampai Malang.

      Silahkan jika berkenan menengok postingan saya yang ini: Jangkauan Wilayah Kemitraan Beternak Puyuh PT Peksi Gunaraharja Yogyakarta.

      Terima kasih apresiasi dan kunjungannya. Salam hangat dan sejahtera selalu.

  3. Komari, Mojokerto
    mohon petunjuk cara mencampur makanan puyuh yang ideal/seimbang supaya telur tetap stabil, selama ini kami mencampur 2 : 1 ( makanan pabrik dan dedak halus ) hasilnya kurang maksimal. Trim atas jawabannya.

    • Terima kasih juga, Pak, sudah berkenan meninggalkan tanggapan di blog ini.

      Sebelum ada pengetatan dari inti plasma PT kemitraan. Saya dulu mencampur dengan perbandingan 4:1:1 pakan pabrik : dedak halus : jagung giling.
      Pada kali pertama ujicoba penimbangan, waktu itu telur setoran saya paling berat 9,4 kg per-900 butir.

      Setelah diterapkan peraturan feed intake 22 gram, saya tidak pernah mencampur lagi. Bobot telurnya rata-rata selalu di atas 10 kg per-900 butir. Tergantung kualitas pakan pabrikan. Tapi biarpun pakan pabrikan, jika pembuatannya pas dicampur dengan tepung gaplek, tidak bisa mencapai bobot 10 kg per-900 butir. Kerabangnya juga buruk sekali. Mudah pecah. Terutama mungkin untuk pakan pabrikan yang merk UKS, untuk kalangan sendiri.

      Namun pernah juga mencampur dengan polar. Perbandingan 14:2. Hasilnya tidak begitu merosot bobot telurnya.

      Silahkan berkunjung: Rahasia Alternatif Campuran Pakan Puyuh yang Top Markotop.

      Tapi hanya sekali itu saya mencampur. Karena feed intake saya merosot di bawah 20, sehingga saya kembali murni.

      Ada yang berpendapat, jika dicampur polar. Beresiko hanya gemuk pada puyuh, tapi produktivitas menjadi turun.
      Lain dengan cerita dari peternak yang terus menerus mencampur, katanya tidak masalah, baik jumlah produktivitas maupun umur produktivitas puyuh.

      Kalo saya boleh berpendapat, nyampurnya cukup sekedar untuk tambah-tambah hasil saja.

      Dan mohon juga apabila ada masukan informasi mengenai hal ini, semoga ada pengunjung yang melintas dan lebih paham, berkenan memberi masukan.

      Terima kasih.

  4. pakan hasil pabrik sudah mengikuti standar nutrisi pakan dari pemerintah dan ada undang2 nya pak. jadi kita tidak perlu ragu lagi menggunakan pakan pabrik beregestrasi. penyampuran sangat beresiko. menggadang2 mendapatkan untung, justru buntung yg didapat.
    saya sudah 16 th beternak puyuh. semua jalan sudah saya tempuh untuk mendapatkan penghasilan yg optimal.
    menyinggung pakan, saya sarankan untuk tidak mencampur. berikan murni pakan dari pabrik. kecuali pencampuran yg dilakukan adalah meningkatkan kualitas pakan tersebut, bukan malah mengurangi mutu.
    100% dari peternak yg mencampur pakan pabrik adalah untuk menekan biaya pakan, dengan mencampur bahan yg lebih murah, sehingga didapat rata2 harga pakan yg lebih rendah, padahal tidak ada 1 peternak pun yg berhasil meningkatkan kualitas telur yg dihasilkan.
    beternak puyuh jgn menggunakan prinsip ekonomi pak.
    modal kecil hasil optimal.
    beternak puyuh akan jauh lebihbanyak menghasilkan jika diberikan kualitas teratas, tentunya dengan modal yg lebih besar.
    kasarnya seperti ini.
    – dengan harga pakan pabrik 4500/kilo menghasilkan pendapatan kotor 1,5jt perbulan
    – dengan 4000/kilo pakan campuran hanya mendapatkan 1jt perbulan.
    jika diambil rumus prosentasenya sperti ini
    – dengan pakan 100% kita mendapatkan keuntungan 100%
    – dengan pakan 75% kita mendapatkan keuntungan 60%
    PILIH MANA?

    • Informasi yang sangat bermanfaat.
      Saya pribadi memang mencampur pakan, tetapi dulu, sewaktu pt kemitraan menerapkan sistem pembelian dengan hitungan butiran.
      Akan tetapi semenjak pembelian oleh kemitraan dengan hitungan berat telur puyuh, saya hampir belum pernah mencampur.
      Sekali pernah, dengan perbandingan yang jauh sekali, namun sampai sekarang, murni pakan pabrikan lagi.

  5. kalo aku biasanya pakai campuran ini pak…100: 50 : 25 : 2 Yaitu
    BP 104 : bekatul murni : sentrat : mineral ( penguat cangkang )

Silahkan Menuliskan Komentar di Sini [Trima Kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s