Ternak Puyuh Bukan Dagang Kayu Jati

Sudah ada dua teman peternak puyuh yang sebelumnya menjadi pedagang kayu, khususnya kayu jati. Mungkin karena beberapa saat lalu bisnis kayu jati agak sepi, lantas banting stir menjadi peternak puyuh. Harapannya mungkin dari budidaya ternak puyuh, akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Barangkali saja begitu. Sehingga hasil bisnis puyuh diharapkan akan menggantikan hasil usaha dagang kayu jati.

Tidak tanggung-tanggung, mereka langsung memiara lebih dari 10 ribu populasi. Untuk ukuran saya yang peternak kecil, populasi sejumlah tersebut merupakan usaha puyuh yang terhitung “wah”.

Kebetulan teman-teman yang banting stir dari dagang kayu jati menjadi peternak puyuh tersebut, salah satunya akrab dengan saya. Biarpun begitu “pembelajaran” tentang cara beternak puyuh dan hitungan-hitungan hasilnya bukan dari saya. Selama beternak puyuh, hanya dua kali saya sempat main, itu pun bukan urusan puyuh.

Namun apa dikata, entah apa juga sebabnya, hanya sampai 6 bulan, ternak puyuh mereka berhenti. Burung puyuh dilelang, daripada diapkir muda. Kandang-kandang juga dijual selaku-lakunya. Ada apa gerangan? Bikin penasaran.

Dari satu yang akrab, saya dapat keterangan. Disimpulkan beternak puyuh tidaklah menghasilkan. Selain repot, hitungan keuntungannya juga susah.
Akhirnya, mereka kembali lagi jadi pedagang kayu jati.

Saya ngayem-ayemi, menentramkan. Saya bilang, selain memang aslinya tidak minat, juga karena memang bukan jatah jalan rejekinya lewat usaha ternak puyuh.

Baiklah. Di sini tidak akan salah menyalahkan. Masing-masing mempunyai pendapat sendiri-sendiri, dengan cara pandang yang berbeda tentunya.

Namun kalau boleh saya berpendapat, ada semacam cara penghitungan untuk menentukan keuntungan dari kubikasi kayu jati, diterapkan pada populasi burung puyuh. Disinilah perbedaannya.

Dalam kubikasi dagang kayu jati, modalnya menggumpal yang berputar. Mulai dari harga kulakan, biaya tebang pohon, biaya angkut dan transportasi, bisa dihitung dengan jelas. Apalagi jika jual gelondongan, satu kubik umpamanya untung 100 ribu, jual 10 kubik bisa diperkirakan mendapatkan 1 juta.

Namun lain jika penghitungan tersebut diterapkan pada usaha ternak puyuh. Umpamanya piara 1 ribu populasi keuntungannya 200 ribu per-minggu, belum tentu dengan piara 10 ribu akan mendapatkan 2 juta per-minggu.

Di dalam ternak puyuh, ada tingkatan cara pemeliharaan. Semakin banyak populasi, tentu akan semakin banyak pula waktu dan tenaga yang dibutuhkan. Juga resiko kematian dan tingkat kerepotan menangani lebih banyak “nyawa”, harus pula diperhitungkan.
Bolehlah keuntungan dihitung sesuai kelipatan populasi, syaratnya harus semua dikerjakan sendiri.
Semakin banyak puyuh piaraan, akan semakin juga memaksa membutuhkan karyawan. Dan itu adalah pengeluaran.

Disamping hal-hal tersebut, usaha ternak puyuh adalah usaha yang membutuhkan kontinuitas keras. Jika berdagang kayu jati, misal ingin istirahat dulu, ya istirahatkan modalnya. Namun untuk usaha ternak puyuh, tidak bisa begitu. Setiap hari adalah jadwal kerja.

Tidak ada istilah libur. Apabila ingin istirahat, tentu menunggu semua apkir. Serta harus punya cadangan devisa, alias simpanan kekayaan. Sebab untuk memulai lagi, lebih-lebih yang dari bibit umur satu hari, bisa-bisa tiga bulan tanpa penghasilan dari ternak puyuh sama sekali.

Ini hanya pendapat pribadi. Silahkan menanggapi. Yang perlu ditekankan ialah bahwa, pertimbangkan masak-masak sebelum terjun ke dunia usaha puyuh. Sayang modalnya kan jika sampai berhenti di tengah jalan???

Iklan

5 responses to “Ternak Puyuh Bukan Dagang Kayu Jati

  1. betul.semua bidang usaha harus dibarengi dgn menejemen yg sip.jgn cuma wang sinawang,sawang kono sawang kene yang di sawang cuma manisnya paitnya gak di sawang yo kelilipen mripate yo mas yo

    • Setuju sekali, Bung Raden.
      Hanya wang sinawang, kalo tidak hati-hati bisa blereng. Walaupun toh, tidak menutup kemungkinan, dari wang sinawang, akan bertemu hasil yang gemilang. Jarene wong tuwo, sopo sing temen bakal tinemu.

      Salam usaha… 🙂

  2. saya sudah 16 tahun beternak puyuh, semenjak umur saya menginjak usia 7 tahun, tak ada perkembangan pasti dlm usaha saya , berkisar antar 400-2400 ekor puyuh…
    dalam usaha yg penting mau bersyukur atas pahit manisnya usaha masing2, mau belajar, g mudah kapok {jera), terakhir adalah tekun . . . .

    • Terima kasih, Pak Sholehuddin. Sudah berbagi kiat-kiat menjalankan usaha beternak puyuh. Bersyukur, mau belajar, tidak mudah kapok, dan tekun.
      Saya ulang, agar saya juga selalu ingat dan dapat mengambil manfaat.

  3. Ping-balik: Teknik Beternak Puyuh [Mulainya Bagaimana?] | [PUYUH JAYA]

Silahkan Menuliskan Komentar di Sini [Trima Kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s