Kondisi Sedang Prihatin, Burung Puyuh Jangan Diajak Prihatin ya…..!!!

Keuangan. Ya, masalah keuangan yang saya maksud dengan kondisi prihatin dalam postingan ini. Tentu saja khususnya pada para saudara peternak burung puyuh petelur. Lebih khusus lagi, yang kondisi keuangannya sedang tertimpa prihatin.

Lho, peternak puyuh kok bisa sampai prihatin?

Ya bisa saja toh… Dengan penghasilan dari ternak yang sebenarnya terbilang cukup lumayan, tetap tidak bisa lepas jika memang sedang dilanda kondisi prihatin. Banyak faktor bisa mempengaruhi kondisi moneter pribadi.

Bisa jadi seperti halnya penimbunan BBM, siapa tahu ada juga penimbunan uang, sehingga peredaran uang di masyarakat menjadi sedikit. Akibatnya harga jual murah, tapi daya beli rendah.
Ah, itu kan faktor eksternal. Tidak baik mencari kambing hitam.

Faktor internal saja, dari peternak puyuh itu sendiri, yang sedang terlanda kondisi moneter memprihatinkan. Bisa dari pemenuhan kebutuhan yang di luar atau lebih tinggi dari pemasukan, istilah bahasa jawa kalau boleh dibelokkan, gegeden empyak kurang cagak.

Atau juga karena modalnya dari pinjaman bank. Kondisi harga sedang menurun, apalagi ditambah kondisi puyuh yang mulai tua, otomatis penghasilan juga ngedrop. Di lain pihak, Bank peminjam jelas tidak mau mengerti. Pokoknya harus bayar.

Kondisi akan masuk memprihatinkan, jika demikian, ditambah apalagi tidak ada pemasukan dari luar usaha ternak puyuh. Aduh.

Seringkali saya perhatikan, pada kondisi seperti itu, produksi telur puyuh juga ikut-ikutan ngedrop. Lantas kebanyakan mengkait-kaitkan. Produksi telur puyuh menurun, karena pemilik sedang bunek pikirannya, alias sedang kalut karena dilanda keprihatinan. Yang mana dalam postingan ini, adalah keprihatinan keuangan.

Bolehlah dianggap begitu. Mungkin memang ada faktor kasat mata antara pemilik dan puyuh piaraan. Semacam ikatan jiwa, yang mempengaruhi kondisi. Aura prihatin dari pemilik akan berimbas pada produktivitas puyuh piaraan.

Akan tetapi, saya akan mencoba melihat dari sisi lain. Yang lebih agak rasional. Terkait dengan tata cara beternak burung puyuh saya sendiri.

Tidak akan menilai peternak lain, melihat dari pengalaman pribadi terlebih dahulu.

Biasanya jika kondisi sedang dilanda prihatin, terutama masalah keuangan, seperti telah saya paparkan di atas. Peternak puyuh akan berusaha mencari keuntungan sebesar-besarnya dari usahanya. Dengan cara, mengajak burung puyuh piaraan untuk ikut prihatin.
Pemberian pakan dipres, ditekan, dihemat, diirit-irit sedemikian rupa.

Bahkan ada yang mengandalkan “tanganku dingin”. Sehingga menganggap dengan diberi pakan sedikit, hasil telurnya melimpah ruah. Penghasilan diperkirakan akan sangat tinggi sekali. Burung puyuh dipaksa menjadi penolong dalam keprihatinan.

Tapi sayangnya, burung-burung puyuh itu tidak mau mengerti keadaan. Jatah pakan standar ya tetap sekitar 22 gram per-ekor per-hari. Jika pakan dihemat, maka akibatnya, dalam bertelur pun juga ikut-ikutan hemat. Alias ngedrop. Penurunan produksi yang menukik tajam.

Sudah kondisi keuangan prihatin, malah bisa-bisa semakin tambah prihatin. Mumet dadine.

Kondisi produksi telur ngedrop, masih bolehlah saya anggap mendingan. Tapi cobalah ambil burung puyuhnya. Pegang badannya. Tipis atau tidak. Jangan-jangan yang gemuk cuma bulunya. Kan kasihan.
Kondisi kurus, dibikin prihatin, stamina menurun, hati-hati saja…. Penyakit lebih mudah nempel. Ada berak kapur, berak hijau, snot, atau bahkan berak darah. Kukut….

Karena itu, bukan bergaya sok pengalaman, karena lebih saya tujukan pada diri saya pribadi. Biarpun kondisi sedang prihatin, burung puyuh piaraan sebaiknya jangan diajak ikut prihatin. Bisa-bisa malah tambah memprihatinkan.
Lupakan dulu tentang mitos “tangan dingin”, juga sementara kesampingkan dulu pendapat “ikatan jiwa”.
Bagi peternak puyuh, burung puyuh menjadi perantara sumber rejeki dari Sang Maha Kaya. Perlakukan sesuai dengan apa yang mereka minta. Maka mereka akan membalas dengan kebaikan pula. Hasil telur yang maksimal, keuntungan yang sesuai standar. Semoga berkah.

Salam semangat.

[gambar pinjam dari email FFO]

Iklan

8 responses to “Kondisi Sedang Prihatin, Burung Puyuh Jangan Diajak Prihatin ya…..!!!

  1. semangat ….semangat…..semangat…..,meskipun agak lemes karena harga telur,hehehe

  2. beli dikit dapet dikit beli banyak dpt banyak gx beli ya gx dpt apa2,ha..ha..cukup yang punya saja yang tirakat puyuhnya jgn di ajak tirakat juga,ok betul begitu kan bang PJ !!!

    • 😀 Terima kasih apresiasinya, Bung Raden.
      Betul, sangat betul sekali. Pemasukan pakan = Pengeluaran telur.
      Mending kalo telurnya sedikit, lhah kalo gemaknya jadi sakit, bisa “sakit” semua..

      Pemiliknya saja yang tirakat. Mengencangkan ikat pinggang yang sudah kencang 😀

      Salam semangat.

  3. memang roda berputar begitu juga harga telur puyuh kadang naik dan kadang turun….tapi kita harus tetap bersyukur, kita harus tetap semangat pelihara puyuh kita dengan baik…..toh suatu saat harga akan naik juga betul gak ?

  4. akhir2 ini semenjak musim penghujan tiba produksi telor puyuh menurun,,, dr 95% mnjadi 85% an…
    tetapi semangat saya gk bakalan surut… dan saya berusana mencari penyebab penurunan produksi selain dr faktor cuaca
    nikmati semua anugrah NYA walaupun terkadang sulit untuk di terima
    karna orang yng sabar dan selalu berusaha akan mendapatkan ridho NYA
    AMIIIIINNN

    • Terima kasih atas pencerahannya, Mas Deddy.
      Bersabar, tawakkal, dan ikhlas, mengiringi untuk tetap semangat berusaha, menjadi inspirasi menjalani semua ini.
      Terus berharap ridho-Nya. Amiiin…

      Salam semangat.

Silahkan Menuliskan Komentar di Sini [Trima Kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s