Ha Ha Harga Telur Puyuh Turun Lagi, Bagaimana Peternak Menyikapi?

Jadwal hari ini (27/09) rutin seperti biasanya pengambilan telur dari PT kemitraan. Sekalian juga penyerahan hasil perhitungan selisih antara pengambilan pakan dan setoran telur minggu kemarin.

Namun kali ini, sambil ngguya-ngguyu, mesam mesem, senyum-senyum, petugas dari PT memberi oleh-oleh selembar pengumuman. Setelah saya baca, walah… lagi-lagi… Ha ha harga telur puyuh turun lagi Rp 900 per-kg, atau jika diukur dari produksi ternak puyuh saya, berarti anjlok Rp 9 per-butir. Berlaku mulai 25 September 2011.

Iya ya ya… Dalam waktu tidak ada dua minggu, harga turun dua kali ( silahkan simak postingan sebelumnya tentang turunnya harga telur puyuh minggu kemarin. )

Pertanda apa ini?

Apakah harga telur puyuh akan mengikuti trend ilmu titen tradisi yang sudah bertahun-tahun terjadi? Dimana tiap masuk bulan yang berakhiran “ber”, harga juga ikut-ikutan gaber, alias ndlosor, atau menukik turun. Mungkin iya akan kembali pada tradisi, bisa jadi.
Nyatanya menjelang akhir bulan September ini sudah 2x terjadi penurunan harga telur puyuh. Terhitung secara butiran, berarti turun harga sudah Rp 14 per-butir.

Walaupun sepertinya tahun ini 2011 harga telur puyuh tetap seiring dengan harga pakan, tapi rasa-rasanya hanya sebentar mendapatkan harga bagus. Bahkan di bulan Ramadlan yang biasanya menjadi bulan dengan harga emas pun, kemarin tidak begitu melejit. Seperti pernah disampaikan, baru tahun ini harga telur puyuh ada di bawah harga telur ayam. Karena itu pernah juga saya memposting, harga telur puyuh tahun ini susah diprediksi.
Tapi jika mulai bulan September ini harga telur puyuh juga mulai menghajar peternak, berarti sudah bisa diprediksi lagi, alias mengikuti tradisi dari tahun ke tahun? Tapi bagaimana dengan yang seharusnya harga emas atau harga bagus kemarin, kok tidak memuaskan?

Gejala apa ini?

Memang secara popularitas, telur puyuh memang tidak se-mendunia telur ayam. Lebih banyak masakan seperti roti, sayur, juga lauk, variasinya tidaklah sebanyak telur ayam. Mungkin karena kepraktisan penanganan cara memasak masih menang telur ayam.

Atau selama tahun 2011 sampai bulan ini, terjadi banyak penambahan kuantitas jumlah barang telur puyuh di pasaran? Entahlah. Menurut obrol-obrol waktu pertemuan kelompok peternak dengan pihak PT, memang mungkin terjadi seperti itu. Istilahnya membludak, katakanlah semacam booming produksi. Dimana penyerapan konsumen terhadap telur puyuh tidak meningkat, tetapi jumlah produksi melebihi biasanya. Secara nasional tentu.
Farm penetasan puyuh tumbuh bak jamur di musim hujan. Akan tetapi tidak diimbangi dengan perluasan konsumen. Ya memang wajar jika harga tidak bisa maksimal. Tidak menyalahkan lho..!!

Dalam kondisi harga mulai turun, menurut keterangan PT, dijual seberapa pun ya tidak bisa mendongkrak jumlah penjualan. Tidak akan lantas terjadi borong besar-besaran dari konsumen. Seakan-akan kebutuhan konsumsi telur puyuh memang menurun seiring dengan menurunnya harga.

Penting juga mengendalikan populasi. Hal ini akan saya bahas di blog lawas, karena terkait kemitraan. Ditambah keterangan dari pihak PT: “bisa saja PT memproduksi sebanyak-banyaknya DOQ bibit puyuh petelur, namun jika tidak diimbangi perluasan pasar, ya percuma saja. Peternak bisa-bisa hanya menjadi korban mencari keuntungan dari penjualan bibit puyuh dari PT. Mau harga telur hancur, tidak dipikirkan”.

Namun selama ini tidak begitu. Upaya agar barang menjadi laku, pernah juga melakukan jual paksa ke karyawan-karyawannya dengan 1/3 harga pembelian dari peternak. Mungkin dengan pertimbangan daripada menjadi barang busuk di gudang.

Lantas bagaimana peternak puyuh menyikapi kondisi ini?

Tentu ya pasrah saja. Lha mau bagaimana. Apa bisa memaksa konsumen untuk membeli telur puyuh? Tidak bisa to.

Mengikuti kebiasaan tradisi tiap kali harga telur puyuh menukik turun dan turun, saat seperti ini adalah waktu yang tepat untuk peremajaan. Tentu hanya berlaku untuk puyuh-puyuh yang memang sudah layak apkir. Sekaligus mengurangi peredaran telur di pasaran.

Salam semangat.

Iklan

6 responses to “Ha Ha Harga Telur Puyuh Turun Lagi, Bagaimana Peternak Menyikapi?

  1. memang harga sekarang berapa gan?

  2. sebenarnya jika di ambil dari data statistik dinas peternakan pusat, kebutuhan telur seluruh nusantara baru terpenuhi 20%, masih ada 80% kebutuhan telur puyuh yg belum bisa terpenuhi oleh seluruh peternak nusantara, hanya saja pwmweintah dan peternak sendiri tidak cepat bertindak dlam menjangkau wilayah2 yg memang sulit dijangkau, misalnya indonesia wilayah timur, kebanyakan hanya memasarkan ke wilayah sendiri yg notabennya juga banyak yg memprosuksi, untuk itu, cobalah memberi masukan ke inti plasma (kemitraan) untuk memngirim pasukan prosuksi telur ke wilayah luar, atau untuk peternak mandiri kecil membentuk organisasi, sehingga hasil prosuksi bisa dikumpulkan untuk dikirim ke luar, krena klo sedikit kan rugi biaya kirim…

    • Terima kasih informasi dan apresiasinya, Pak Sholehuddin. Sangat bermanfaat.
      Pada pertemuan kelompok peternak dengan inti plasma yang akan datang. Akan coba saya sampaikan.

  3. apa tenak puyuh dari dulu memang begitu? kok sulit ya untuk berkembang

Silahkan Menuliskan Komentar di Sini [Trima Kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s