Ini Salah Satu yang Menentukan Harga Pakan Ternak Puyuh

Harga pakan puyuh setahun yang lalu sekitar Rp 202.000 kurang lebih. Harga sekarang berkisar Rp 225.000 kurang lebih. Memperbandingkan harga telur puyuh antara satu tahun yang lalu dengan sekarang juga ada kenaikan harga. Tentu seiring dengan berubahnya harga pakan.

Per-sak pakan puyuh, sekarang kira-kira membutuhkan 1260 butir telur puyuh. Tahun lalu pun, lebih kurang juga sama. Berarti perhitungan penghasilan beternak puyuh terhitung tetap. Kuncinya memang pada harga pakan puyuh dan harga telur puyuh di pasaran.

Tidak akan posting tentang analisa usaha terkait harga pakan dan harga telur, kali ini ingin membahas salah satu latar belakang yang menjadi penentu harga pakan di pasaran. Pada pemberitaan yang saya kutip sebagian kecilnya berikut ini, ilustrasinya memang memakai foto ternak ayam pedaging. Namun pada isi berita, ditambah berbagai cerita bapak-bapak dari PT, berlaku juga pada pakan puyuh, atau ternak (unggas) pada umumnya.

Bahan utama pakan ternak berupa jagung, dengan kebutuhan 5 juta ton per tahun. Sekitar 2,5 juta ton di antaranya harus diimpor.
Bungkil kedelai malahan harus mengimpor seluruhnya, yakni 2 juta ton per tahun. Begitu juga tepung daging yang perlu 200.000 ton pertahun, harus mengimpor seluruhnya.

[berita selengkapnya di Kompas.com]

Iya, impor ! Mendatangkan dari luar negeri. Membeli tentunya. Dengan alasan produksi dalam negeri tidak mencukupi.

Jagung harus impor, bungkil kedelai harus impor, apalagi yang mau impor?? Apakah tenaga ahli juga harus impor?? Ya tidak apa-apa, kalau memang membutuhkan. Apalagi kalau “harus”.

Terkait dengan (konsentrasi pada ) impor jagung (dan bahkan bungkil kedelai) untuk bahan pakan ternak (puyuh). Sebagai “konsumen pakan”, saya hanya bisa bertanya-tanya dengan dasar kurangnya wawasan per-jagung-an:

1. Apakah harga jagung di dalam negeri terlalu tinggi?

2. Apakah berkurang minat budidaya jagung yang untuk pakan ternak?

3. Apakah sudah bukan negara agraris lagi yang lahan pertanian jagungnya sudah berkurang, sehingga tidak mencukupi kebutuhan jagung dalam negeri?

4. Apakah kualitas jagung dalam negeri kalah dibanding jagung impor?

Seandainya jagung tidak perlu impor, dan harganya bisa rendah, tentu harga pakan ternak (puyuh) juga rendah. Atau malah bisa ekspor…. Sehingga lebih banyak uang yang masuk dalam negeri daripada uang yang keluar.

Yang jelas intinya, dari pemberitaan tersebut dapatlah dipahami, salah satu latar belakang penentu harga pakan ternak (puyuh) adalah: impor bahan pakan. Tentu saja tidak hanya jagung.

Mungkin memang harus impor. Sebab mungkin tidak “jalan” kalau tidak impor. Alias kalau tidak impor, mungkin akan kekurangan pakan ternak, dan harganya akan tinggi sekali. Otomatis, harga produksi dari ternak juga akan tinggi sekali. Mungkin…

Kapankah sebagai negara yang (katanya) agraris tidak perlu impor bahan-bahan agraris?

Iklan

One response to “Ini Salah Satu yang Menentukan Harga Pakan Ternak Puyuh

  1. tau ya… sekarang.. tanah2 lagi mudim di kapling

Silahkan Menuliskan Komentar di Sini [Trima Kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s