Pendeta Kruiger: Ternak Burung Puyuh untuk Setiap Warga yang Miskin di Afrika

Mimpi Kruiger paling indah adalah apabila orang-orang miskin di Afrika nantinya memiliki kandang puyuh di samping gubuk mereka. [rnw.nl]

Petikan pernyataan Pendeta Kruiger di atas, dari pemberitaan di rnw.nl tentang kepedulian pada kemiskinan dengan ternak burung puyuh sebagai salah satu solusinya.

Tentu saya tidak akan mempersamakan tingkat pemikiran dengan Pendeta Kruiger. Sebab secara pengetahuan, wawasan, pergaulan, maupun tingkat kepintaran ya jelas tidak sejajar. Namun sekilas memang ada persamaan tentang ternak burung puyuh dan solusi kemiskinan. Sama, tapi beda visi maupun misi.

Pernah saya twitkan, budidaya ternak burung puyuh bisa menjadi program pengentasan kemiskinan di Indonesia. Namun perbedaannya dengan Pendeta Kruiger di negeri Belanda, saya menekankan pada peningkatan penghasilan di Indonesia, sedangkan Pendeta Kruiger menitikberatkan pada pemenuhan gizi untuk penduduk yang miskin di Afrika.
Tergambar seperti berikut ini:

Pendeta Kruiger: Burung puyuh: mereka gampang dikembangbiakkan, pemakan semua, cepat tumbuh dan menghasilkan daging serta telur yang sehat. Demikian pendeta Jan Peter Kruiger yang percaya bahwa burung puyuh bisa mengurangi kelaparan di Afrika. Karena itulah dia memulai aksi “Burung puyuh untuk Afrika.”

Di belakang rumahnya, Kruiger memperlihatkan visinya. Di dalam tiga menara, bekas kandang kelinci, terlihat burung puyuh yang bebas berkeliaran. “Orang-orang Afrika yang tergolong miskin biasanya kekurangan protein.
Setiap kandang diisi dengan delapan burung puyuh, dan ini cukup untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga kelas menengah di Afrika, beserta anak-anaknya.” kata Kruiger. Diharapkan setiap keluarga Afrika suatu saat akan mempunyai kandang seperti itu, dimulai di Uganda dan Kenya.
[rnw.nl]

Kali ini bukan pada hal ternak puyuh dan pengentasan kemiskinan tersebut yang akan saya sampaikan. Namun angan-angan / harapan yang terkait dengan pemasaran ekspor telur puyuh untuk program kemanusiaan di negara manapun yang sedang membutuhkan bantuan makanan bergizi. Mungkin ini juga perbedaan dengan Pendeta Kruiger. Keinginan beliau semata-mata kemanusiaan, sedangkan pemikiran saya lebih pada “matre” yang mementingkan pemasaran.

Program kemanusiaan internasional tentu mempunyai pendanaan yang besar dari berbagai sumber, termasuk dari sumbangan-sumbangan.
Berandai-andai sih buat apa. Tapi sekedar obrolan warung kopi, seandainya pendanaan program kemanusiaan tersebut untuk mendirikan pabrik, mengemas telur puyuh menjadi siap saji seperti halnya sarden, tentu bisa menjadi komoditi ekspor untuk program kemanusiaan yang cukup handal.
Pencapaian telur puyuh sebagai komoditi ekspor, sedikit banyak akan lebih menstabilkan harga. Atau bahkan meningkatkan.

Tentu angan-angan / harapan tersebut malah akan menyasar dua tujuan. Tujuan pertama untuk program kemanusiaan. Tujuan kedua untuk peningkatan penghasilan petani peternak, dan membuka lapangan kerja lebih banyak.

Namun begitu, semoga yang diharapkan Pendeta Kruiger Menurut Kruiger, kekuatan gagasan ini terletak pada kurangnya pengetahuan tentang beternak di rumah. Puyuh memang populer di benua Afrika, tapi sebagian besar hidup di alam bebas. “Saya menyaksikan nenek yang mengasuh cucu-cucunya, dan ini merupakan situasi yang sering terjadi. Dengan kelebihan daging dan telur yang ada, mungkin dia masih bisa mendapat penghasilan” tambahnya.

Pada akhirnya Pendeta Kruiger selain berpikir pada pemenuhan gizi, juga peningkatan penghasilan.
Berarti sama juga ya 🙂
Tapi Pendeta Kruiger untuk Afrika, saya dalam negeri.

[kutipan-kutipan tersebut diambil dari http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/burung-puyuh-untuk-setiap-warga-miskin-afrika

Iklan

Silahkan Menuliskan Komentar di Sini [Trima Kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s