Begini Akibatnya kalau Salah Memberi Pengertian tentang Arti BERSENGGAMA

Ada seorang anak kecil yang sukanya nanya-nanya ke orang tuanya. Apa saja yang dia tidak tau dan ingin tau, ditanyakan semua. Banyak sumber yang menarik perhatian anak kecil itu, maklumlah, awal-awal lancar bisa membaca, tentu banyak kata-kata asing yang menarik perhatian. Sumbernya mulai dari media televisi, media koran, bahkan juga dari internet.

Kebetulan pada cerita ini kali ini, anak kecil itu lebih sering nanya ke sang ibu.

Suatu hari anak kecil yang suka nanya itu membaca sebuah artikel. Hoho… Dia tertarik pada satu kata: bersenggama.
Tentu saja ditanyakan juga pada sang ibu.

Bersenggama itu apa sih?

Agak terbelalak dan bengong sang ibu menerima pertanyaan itu. Sekilas banyak pertimbangan memenuhi benaknya. Jika dijawab yang sebenarnya, ah… anak sekecil ini belum boleh tau tentang kayak gituan. Tabu. Menerangkannya juga susah. Repot lagi kalo minta contoh gambarnya. Bisa berabe.

Namun jika tidak dijawab, alias dibilang “anak kecil belum boleh tau, pokoknya itu jelek, buruk.” Akibatnya sepertinya kurang bagus juga. Kalo tidak nanya dan nanya terus, mungkin mencari jawaban di luar sana. Malah bisa bikin dewasanya cepat mendadak.
Atau, akan terukir dalam pikirannya bahwa bersenggama adalah hal yang jelek dan buruk.

Ting…!! Akhirnya sang ibu menemukan inspirasi jawaban yang dianggapnya tepat: “Bersenggama itu artinya bercakap-cakap.

Si anak puas dengan jawaban sang ibu. Wah, ibu memang paling pinter sedunia, serba tau.

Hingga suatu hari, ibu dan bapaknya si anak itu sedang sedang nyantai di ruang belakang. Ngobrol bercakap-cakap membicarakan sesuatu hal yang penting. Dan si anak sedang bermain-main sendiri di ruang depan.

Tiba-tiba ada tamu yang datang. Anak itu yang menemui duluan. Terjadilah percakapan singkat.

Tamu : “Bapak ibu dimana, Dik?

Anak: “Ada di ruang belakang.

Tamu: “Oh, sedang sibuk ya. Bapak ibu lagi sibuk ngapain, Dik?

Anak itu menjawab dengan polos: “Bapak ibu sedang bersenggama.

Tamu: [melongo]

hanya kisah usang yang diceritakan ulang. artikel ini saya publish juga di kompasiana.

Iklan

Silahkan Menuliskan Komentar di Sini [Trima Kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s