Beberapa Hal yang Biasa Menjadi Faktor Penyebab Kegagalan Beternak Puyuh Petelur

Kegagalan berarti berhenti total. Dalam beternak burung puyuh petelur ada juga beberapa peternak yang berhenti total atau menemui kegagalan. Walaupun tetap dengan terus mengingat bahwa kegagalan adalah awal dari kesuksesan.

Kegagalan budidaya puyuh petelur tersebut belum tentu karena bangkrut alias pemasukan dan pengeluaran tidak berbanding, namun bisa juga disebabkan faktor-faktor teknis dan non teknis lainnya.

Peternak burung puyuh petelur secara garis besar terbagi atas peternak puyuh kemitraan dan peternak puyuh non kemitraan atau peternak mandiri. Kegagalan peternak dalam beternak puyuh petelur diantara keduanya ada yang faktor penyebabnya sama, tapi juga ada yg berbeda tergantung pada jenis atau sifat peternaknya.
Karena itu berdasar dari pengamatan selama ini, faktor penyebab kegagalan dalam budidaya burung puyuh petelur diantaranya demikian:

1. Puyuh terkena penyakit dan peternak sudah putus asa.
Kondisi ini jarang sekali terjadi. Lebih banyak peternak yang menghadapi keadaan demikian namun tetap terus maju.

2. Konflik dengan tetangga dan masyarakat.
Faktor penyebab yang demikian terkait erat dengan pengelolaan kotoran puyuh. Pernah menemukan berhentinya peternak karena hal yang demikian. Pada saat pembersihan, kotoran hanya dimasukkan dalam bagor / sak / karung dan ditaruh di kebun pisang belakang rumah. Bisa dibayangkan betapa menyengat baunya, lebih-lebih jika musim hujan dan kena air, dalam radius jauh pun bau kotoran puyuh masih sangat mengganggu.

3. Pindah ke bidang lain yang tidak bisa sambil beternak puyuh.
Tentu kalau faktor penyebab yang ini mau tidak mau ya berhenti beternak puyuh. Baru saja alias belum lama ada peternak yang berhenti karena hal yang demikian. Beliaunya mendapat pekerjaan di Padang, Sumatera. Kebetulan juga faktor keluarga mengharuskan peternaknya berangkat ke Padang. Otomatis selamat tinggal ternak puyuh. Mudah-mudahan saja di sana bisa mengembangkan ternak puyuh yang sudah tiga tahun ini digelutinya.

4. Tidak kuat menanggung pinjaman bank.
Tentu saja, berdasar perhitungan terutama dilihat dari penghasilan peternak kemitraan, jika sejak awal modal total dari pinjaman bank (bahkan seumpama ada yang tanpa bunga sekalipun), tidak akan kuat membayar angsuran per-bulannya jika hanya mengandalkan hasil dari puyuh. Kecuali kalau separo modal, atau usaha sudah berjalan dan untuk pengembangan. Beberapa beban bisa ditanggung oleh penghasilan usaha ternak puyuh yang sudah berjalan.
Pernah ada peternak yang berhenti karena faktor yang demikian. Beliaunya kemudian mencari nafkah trans ke Sumatera juga.

5. Tidak kuat dengan harga buruk.
Faktor ini terjadi terutama pada saat harga buruk. Kemudian secara sempit mengambil kesimpulan bahwa beternak puyuh itu tidak menguntungkan.Padahal dalam beternak puyuh petelur: harga baik dan harga buruk itu sudah menjadi pakaian resmi yang tidak bisa ditanggalkan.

6. Tidak loyal kepada PT inti plasma.
Tentu faktor penyebab ke-6 ini khusus untuk peternak di dalam kemitraan. Ketidak-loyalan kepada PT bisa diukur dengan berbagai hal. Dan itu sudah digariskan oleh PT kemitraan, apabila melanggar dan pihak PT sudah mengeluarkan Surat Peringatan tahap 1 sampai SP3 yan berujung pemberhentian total tanpa peternak beralih menjadi peternak mandiri. Penggarisan peraturan PT tersebut ntara lain dalam standar penyetoran telur, standar pengambilan pakan, dan juga dalam penataan pasca panen.

7. Berhentinya jalur pemasaran.
Faktor penyebab yang ke-7 ini lebih pada peternak puyuh non kemitraan atau pada peternak puyuh kemitraan dimana pihak PT tidak mengambil telur puyuh pada saat harga jatuh. Dengan catatan apabila peternaknya kapok meneruskan usahanya. Apabila tidak kapok tentu akan terus mencari jalur pemasaran lain yang mantap.

8. Konflik antara juragan dan pelaksana ternak.
Ini juga belum lama terjadi. Contoh kasusnya: juragan atau pemodal mengharuskan puyuh 3000 populasi dalam seminggu paling banyak menghabiskan pakan 7 sak. Tetapi pelaksananya tidak tega dan kepada puyuh piaraan, kemudian meminjam pakan ke peternak lain, pemodal tidak mau tahu, dan akhirnya konflik terjadi yang berujung berhenti total beternak puyuh petelur.
Namun untuk faktor ke-8 ini bisa juga terjadi sebaliknya, ada kenakalan dari pihak pelaksana. Sebab peluang tidak baik untuk yang bersifat curang sangatlah terbuka lebar. (Dalam beternak ayam pedaging, kondisi kerjasama demikian ada juga yang memberi istilah dengan anak kandang dan pemegang kunci).

9. Fisik peternak tidak lagi memungkinkan menjalankan usaha.
Tentu faktor kesehatan yang dominan dalam faktor penyebab ke-9 ini. Usaha beternak puyuh petelur adalah usaha yang tidak ada liburnya. Kecuali kalau memang menghendaki istirahat beternak dahulu.
Kegiatan yang terus menerus tiap hari tanpa dibarengi dengan istirahat yang cukup, bisa berakibat pada menurunnya kesehatan. Karena itu jagalah kesehatan.

10. Barangkali ada tambahan ? ? ? ? Silahkan share di sini. Terima kasih.

Iklan

7 responses to “Beberapa Hal yang Biasa Menjadi Faktor Penyebab Kegagalan Beternak Puyuh Petelur

  1. Assalamualaikum……terima kasih untuk semua tulisan di bolg ini maupun di blog yg lama,sangat bermanfaat terutama bagi pemula seperti saya.
    semoga bernilai pahala disisiNya…amin.

  2. Assalamualaikum……………saya punya puyuh 1000 ekor dan msih pemula untuk saat ini yng jdi kendala harga pakan yg tnggi gmn apakah ada altrntif lain buat pakan pyuh ptrlur trimakasih mho ptunjuknya

    • Walaikumsalam . . .
      Kalo di daerah sini ada juga yang biasa dicampur dengan bekatul / dedak halus.
      Tapi ada juga yang mencampur dengan polar, hasilnya bagus, baik produksi maupun kualitas telur.

      Semoga bermanfaat . .

  3. welly marizky

    ass.trima ksh atas sharenya.saya baru ingin mulai usaha ternak puyuh mohon bantuannyA.trims

  4. saya juga peternak pemula, sudah dua tahun beternak puyuh tidak berani pelihara langsung banyak tetapi memulai secara bertahap. dari pengalaman 2 thn itu ternyata cukup membahayakan jika peihara puyuh petelur langsung banyak, bisa bangkrut apalagi modal dari pinjaman. itulah pesan saya untuk peternak yang baru mau memulai usahanya.

  5. Saya peternak pemula. Saya memulai dengan menetaskan 600 butir dan menghasilkan 300 ekor (jantan dan betina) pada bulan Desember 2014. Saat ini populasi puyuh betina sebanyak 3000 ekor. Pada saat populasi 2000 ekor produksi telur mencapai 1400 butir per hari, namun memasuki musim hujan (awal Nopember 2015, produksi telur terus menurun dan sampai saat ini produksi telur tinggal 175 butir per hari walaupun populasinya sudah bertambah menjadi 3000 ekor. Saya sudah mencoba berbagai cara untuk meningkatkan produksi telur namun belum berhasil. Usaha yang sudah saya lakukan yaitu:1) Memberikan obat therapy dan vita stress secara bergantian, 2) Memberikan egg stimulant, 3) Memberikan ramuan (jahe, kunyit, bawang putih dan gula merah), 4) Menambah jumlah bohlam untuk pencahayaan malam hari. Jumlah pakan yang diberikan 60 kg/hari. Mohon sarannya..

Silahkan Menuliskan Komentar di Sini [Trima Kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s