Menyimak Peraturan Menteri Pertanian No. 54/Permentan/2010 tentang Pedoman Pembibitan Burung Puyuh yang Baik

Sebenarnya ada sedikit takut juga saya mau share peraturan Menteri Pertanian mengenai pedoman pembibitan burung puyuh yang baik ini. Takutnya lebih pada jika menyentuh pelanggaran hak cipta. Sebab terbaca dalam file pdf yang saya download ada peringatannya. Berarti perlindungan terhadap buku pedoman yang diterbitkan, sebagai berikut:

Hak cipta © 2011, Direktorat Perbibitan Ternak Kantor Pusat Kementerian Pertanian Jl. RM Harsono No 3 Ragunan Pasar Minggu Jakarta Selatan 12550 Telp. +62.21.7815781 Fax. +62.21.7811385 Isi buku dapat disitasi dengan menyebutkan sumbernya Hak cipta dilindungi Undang-undang.

Tapi di bawahnya ada kalimat bahwa isi buku dapat disitasi dengan menyebutkan sumbernya.

Baiklah, toh tidak ada kepentingan komersil. Selain itu juga sudah ada di lembaran negara yang berarti sepemahaman saya harusnya disebarkan untuk umum rakyat Indonesia.

Berikut ini Permentan no.54/2010 mengenai Pedoman Pembibitan Burung Puyuh yang Baik:

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN … NOMOR 454
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN
NOMOR : 54/Permentan/OT.140/9/2010
TANGGAL : 17 September 2010
PEDOMAN PEMBIBITAN BURUNG PUYUH YANG BAIK
(GOOD BREEDING PRACTICE)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Burung puyuh merupakan salah satu ternak yang mudah
dibudidayakan dan memiliki peran penting dalam upaya
peningkatan pendapatan masyarakat melalui usaha peternakan
burung puyuh. Beberapa keunggulan dari burung puyuh yaitu
produksi telur yang tinggi dan masa pemeliharaan yang singkat.
Selain itu dalam pembudidayaan burung puyuh tidak
memerlukan tempat yang luas dan investasi yang besar,
sehingga usaha peternakan burung puyuh ini dapat dilakukan
oleh pemodal kecil maupun pemodal besar dengan skala usaha
komersial.
Dalam pengembangan usaha peternakan burung puyuh ini
dibutuhkan bibit yang memadai baik kualitas maupun
kuantitasnya mengingat bibit merupakan salah satu sarana
produksi yang penting dalam budidaya ternak. Agar bibit yang
dihasilkan memenuhi persyaratan mutu bibit maka perlu
disusun suatu Pedoman Pembibitan Burung Puyuh Yang Baik
(Good Breeding Practice).

B. Maksud
Maksud ditetapkannya pedoman ini yaitu sebagai:
1. dasar dalam melakukan pembibitan burung puyuh untuk
menghasilkan bibit yang bermutu;
2. pedoman dalam melakukan pembinaan, bimbingan dan
pengawasan bagi dinas yang membidangi fungsi
6 Pedoman Pembibitan Burung Puyuh Yang Baik (Good Breeding Practice)
peternakan dan kesehatan hewan dalam usaha
pengembangan pembibitan burung puyuh.

C. Tujuan
Tujuan ditetapkannya Pedoman ini agar bibit yang dihasilkan
memenuhi standar atau persyaratan teknis minimal dan
kesehatan hewan.

D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Pedoman Pembibitan Burung Puyuh Yang Baik
meliputi :
1. Prasarana dan sarana;
2. Sumber Daya Manusia;
3. Proses Produksi Bibit;
4. Pencatatan;
5. Pelestarian lingkungan;
6. Pengawasan dan Pelaporan.
E. Pengertian

Dalam Pedoman ini yang dimaksud dengan:

1. Pembibitan adalah kegiatan budidaya yang menghasilkan
bibit ternak untuk keperluan sendiri atau untuk diperjual
belikan;

2. Pembibitan Burung Puyuh adalah kegiatan budidaya burung
puyuh untuk menghasilkan bibit ternak bagi keperluan
sendiri atau diperjualbelikan;

3. Bibit Induk adalah jantan dan/atau betina dengan spesifikasi
tertentu untuk menghasilkan bibit niaga/sebar;

4. Bibit Niaga/Sebar adalah bibit dengan spesifikasi tertentu
untuk dipelihara guna menghasilkan telur/daging;

5. Day Old Quail yang selanjutnya disingkat DOQ adalah anak
burung puyuh yang berumur satu hari;

6. Burung Puyuh Pemula (quail starter) adalah anak burung
puyuh yang berumur satu hari sampai tiga minggu;

7. Burung Puyuh Dara (quail grower) adalah burung puyuh
yang berumur tiga sampai enam minggu;

8. Burung Puyuh Dewasa (quail layer) adalah burung puyuh
yang sudah berproduksi umur enam minggu sampai umur
58 (lima puluh delapan) minggu;
Pedoman Pem bibitan Burung Puyuh Yang Baik (Good Breeding Practice) 7

9. Daya Tetas adalah angka yang menunjukkan jumlah burung
puyuh yang menetas dibagi jumlah telur awal yang
ditetaskan, kali 100 %;

10. Pejantan adalah burung puyuh jantan dewasa dengan umur
minimal enam minggu yang digunakan untuk mengawini
burung puyuh induk dan mampu menghasilkan keturunan;

11. Induk adalah burung puyuh betina dewasa dengan umur
minimal enam minggu yang dipelihara dan
dikembangbiakkan untuk memperoleh keturunan;

12. Seleksi adalah kegiatan memilih tetua untuk menghasilkan
keturunannya melalui pengujian berdasarkan kriteria dan
tujuan tertentu dengan menggunakan metode dan teknologi
tertentu;

13. Pengafkiran/Culling adalah suatu tindakan pengeluaran
ternak sebagai tetua karena tidak lolos dalam seleksi;

14. Pengawas Bibit Ternak adalah pegawai negeri sipil yang
memenuhi syarat untuk melaksanakan tugas pengawasan
bibit dan/atau benih ternak sesuai peraturan dan perundangundangan
yang berlaku;

15. Biosekuriti adalah semua tindakan yang merupakan
pertahanan pertama untuk pengendalian wabah yang
dilakukan untuk mencegah semua kemungkinan
kontak/penularan dengan peternakan tertular dan
penyebaran penyakit;

16. Quail Housed adalah angka yang menunjukkan jumlah telur
yang dihasilkan dibagi jumlah puyuh yang masuk kandang
pada awal bertelur, kali 100 %;

17. Quail Day adalah angka yang menunjukkan jumlah telur
yang dihasilkan dibagi jumlah puyuh pada saat itu, kali
100%.

BAB II
PRASARANA DAN SARANA

A. Prasarana

1. Lokasi
Lokasi pembibitan burung puyuh harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut :
a. sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR),
Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan Rencana
Bagian Wilayah Kota (RBWK) di masing-masing wilayah
kota/kabupaten;
b. memiliki izin Hinder Ordonantie (HO)/Undang-undang
Gangguan;
c. tidak berada di lingkungan pemukiman atau perumahan;
d. diberi pagar keliling;
e. berjarak minimal 1.000 (seribu) meter dari usaha
peternakan unggas lainnya;
f. lokasi peternakan merupakan daerah bebas banjir;
g. memperhitungkan lingkungan hayati dan topografi
sehingga kotoran dan limbah yang dihasilkan tidak
mencemari lingkungan.

2. Lahan
Lahan yang digunakan untuk pembibitan burung puyuh
harus memenuhi persyaratan:
a. bebas dari jasad renik yang membahayakan ternak dan
manusia;
b. luas lahan sesuai kapasitas produksi.

3. Air, Sumber Energi, dan Jalan
a. Air
Tersedia sumber air yang cukup dan memenuhi baku
mutu air sesuai dengan peruntukannya.
Pedoman Pem bibitan Burung Puyuh Yang Baik (Good Breeding Practice) 9
b. Sumber Energi
Tersedia sumber air yang cukup untuk penerangan dan
operasional pembibitan.
c. Jalan
Mempunyai akses transportasi untuk memenuhi
kebutuhan sarana produksi dan pemasaran bibit yang
dihasilkan.

B. Sarana

1. Bangunan, Konstruksi dan Desain serta Tata Letak
a. Bangunan

1) Setiap usaha pembibitan burung puyuh memiliki
fasilitas sebagai berikut:

a). kandang luar yaitu kandang yang di dalamnya
memuat kandang batterei koloni yang berisi
burung puyuh dari periode umur yang sama
(periode starter, grower ataupun layer);
b). bangunan penetasan (hatchery);
c). kandang isolasi;
d). gudang penyimpanan pakan;
e). gudang peralatan;
f). tempat pemusnahan/pembakaran puyuh mati;
g). bak dan saluran pembuangan limbah; dan
h). bangunan kantor untuk administrasi.

2). Konstruksi dan Desain Bangunan
Konstruksi dan desain bangunan harus
memerhatikan faktor keselamatan kerja, keamanan
dan kenyamanan serta kesehatan burung puyuh.
Konstruksi dan desain bangunan memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
a). bangunan terbuat dari bahan yang kuat, dengan
konstruksi dibuat sedemikian rupa sehingga
mudah dalam pemeliharaan, pembersihan dan
desinfeksi;
b). konstruksi bangunan gudang pakan dibuat agar
kondisi pakan yang disimpan tetap terjaga
mutunya;
c). mempunyai ventilasi yang cukup sehingga
pertukaran udara dari dalam dan luar kandang
lancar, suhu optimal berkisar 26,50C dengan
kelembaban udara 70-80%;
d). drainase dan saluran pembuangan limbah baik
dan mudah dibersihkan;
e). daya tampung kandang burung puyuh
disesuaikan dengan umur, sebagai berikut:
No Umur (minggu) Daya Tampung
(ekor/m2)
1. 0-1 100
2. 1-3 80
3. 3-6 50
4. >6 50

b. Tata Letak Bangunan
Penataan letak bangunan kandang dan bukan kandang
di dalam lokasi pembibitan burung puyuh
memerhatikan hal-hal sebagai berikut:

1) bangunan kantor dan mess karyawan harus
terpisah dari bangunan perkandangan;
2) tata letak antar bangunan menjamin tidak terjadi
pencemaran yang berasal dari burung puyuh yang
lebih tua kepada burung puyuh yang lebih muda;
3) kandang membujur dari timur ke barat dan cukup
sinar matahari;
4) jarak antar bangunan kandang minimal satu kali
lebar kandang yang diukur dari tepi atap kandang;
5) jarak antara kandang, kandang isolasi, bangunan
penetasan (hatchery) dan bangunan lainnya
minimal 10 (sepuluh) meter.
Pedoman Pem bibitan Burung Puyuh Yang Baik (Good Breeding Practice) 11

2. Peralatan
Peralatan yang digunakan harus sesuai dengan
kapasitas/jumlah burung puyuh yang dipelihara, mudah
digunakan dan dibersihkan serta tidak mudah berkarat.
Peralatan tersebut antara lain:
a. alat pemanas sebagai induk buatan (brooder);
b. ventilator sebagai alat pengatur aliran udara;
c. tempat pakan dan minum;
d. alat sanitasi dan pembersih kandang;
e. termometer dan alat pengukur kelembaban udara;
f. timbangan;
g. alat fumigasi telur;
h. tempat telur /egg tray;
i. alat potong paruh dan kuku;
j. mesin penetas;
k. peralatan pengangkut limbah dan bangkai;
l. alat pemusnah bangkai;
m. peralatan kesehatan hewan.
3. Bibit
a. bebas dari penyakit unggas menular;
b. memenuhi standar atau persyaratan teknis minimal;
c. berasal dari usaha pembibitan.

4. Pakan
a. pakan yang digunakan harus memenuhi persyaratan
mutu pakan dan sesuai dengan kebutuhan
b. pakan yang dibuat atau lebih dimasukkan ke lokasi
pembibitan dilarang untuk diedarkan ke luar lingkungan
pembibitan.

5. Obat Hewan
a. obat hewan yang digunakan harus sudah memperoleh
nomor pendaftaran dari Kementerian Pertanian;
b. penggunaan obat hewan yaitu sediaan farmaseutik,
biologik (vaksin), premiks (feed additive dan feed
supplement) dan obat alami harus sesuai dengan dosis
yang dianjurkan;
c. penggunaan obat hewan klasifikasi obat keras harus
dibawah pengawasan dokter hewan.

BAB III
SUMBER DAYA MANUSIA
Sumber daya manusia yang terlibat dalam usaha pembibitan:
A. Sehat jasmani dan rohani.
B. Memahami teknis budidaya, kesehatan hewan dan keselamatan
kerja.
C. Menggunakan pakaian kerja khusus, masker, sarung tangan
dan sepatu boot.
Pedoman Pem bibitan Burung Puyuh Yang Baik (Good Breeding Practice) 13

BAB IV
PROSES PRODUKSI BIBIT

A. Bibit
Bibit burung puyuh dapat berupa anak umur sehari (DOQ) atau
calon induk yang memenuhi standar mutu atau persyaratan
teknis minimal dan persyaratan kesehatan hewan sebagai
berikut:

1. Anak umur sehari (DOQ)
a. bobot minimal 8 (delapan) gram/ekor;
b. kondisi fisik sehat, tidak cacat, aktif dan lincah, dubur
kering dan bersih, warna bulu seragam, kondisi bulu
kering dan mengembang;
c. berasal dari induk dengan kemampuan produksi telur
minimal 250 ( dua ratus lima puluh) butir/ekor/tahun,
bobot telur minimal 10 (sepuluh) gram/butir, fertilitas dan
daya tetas minimal 70%.

2. Dara
a. umur 3 (tiga) sampai dengan 6 (enam) minggu;
b. kondisi fisik sehat, tidak cacat, aktif dan lincah, warna
bulu seragam;
c. berasal dari induk dengan kemampuan produksi telur
minimal 250 (dua ratus lima puluh) butir/ekor/tahun,
bobot telur minimal 10 (sepuluh) gram/butir, fertilitas dan
daya tetas minimal 70%.

B. Pakan
Persyaratan mutu pakan burung puyuh berdasarkan fase
pertumbuhan dan produksi seperti pada tabel berikut:
No Kandungan
Pakan Burung Puyuh
Starter (%) Grower (%) Layer (%)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Kadar air (mak)
Protein kasar
Lemak kasar
Serat kasar (mak)
Kalsium/Ca (min)
Fosfor total (min)
Energi termetabolis/ME
(min)/kkal/kg
Aflatoxsin (mak)/ppb
Vitamin A (IU/kg)
Asam Amino:
 Lisin (min)
 Metionin (min)
 Metionin+ sistin (min)
14,00
24,0
7,0
6,5
0,9-1,2
0,6-1,0
2.800
40
13.000
1,10
0,4
0,6
14,00
24,0
7,0
7,0
0,9 -1,2
0,6 -1,0
2.600
40
13.000
0,8
0,35
0,50
14,00
20,00
3,96
4,40
2,50
1,00
2.900
40
6.000
1,00
0,45
0,80
Sumber : National Research Council (NRC), 1994.

C. Pemeliharaan
Pemeliharaan burung puyuh dibedakan berdasarkan fase
pertumbuhan dan produksi yaitu starter, grower dan layer :

1. Starter
Burung puyuh umur satu hari (DOQ) sampai dengan 3 (tiga)
minggu, dalam pemeliharaannya memerhatikan kebersihan
kandang dan peralatan, pemberian pakan dan minum
dengan kuantitas dan kualitas sesuai dengan persyaratan
yang ditentukan, dan pengaturan panas dari brooder sesuai
kebutuhan. Program vaksinasi dan pemberian obat hewan
dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan petunjuk teknis.

2. Grower
Burung puyuh berumur 3 (tiga) sampai dengan 6 (enam)
minggu. Pada periode ini dilakukan pemotongan paruh dan
seleksi calon induk dan pejantan. Seleksi calon induk dan
pejantan dilakukan berdasarkan warna bulu dan ciri kelamin
sekunder lainnya. Pada periode ini jantan dan betina
disatukan dalam kandang koloni dengan jumlah maksimal
Pedoman Pe mbibitan Burung Puyuh Yang Baik (Good Breeding Practice) 15
30 (tiga puluh) ekor per unit, dengan perbandingan jantan
dan betina 1 : 3.

3. Layer
Burung puyuh berumur 6 (enam) sampai dengan 58 (lima
puluh delapan) minggu (afkir). Agar diperoleh telur tetas
yang berkualitas pejantan dirotasikan sebulan sekali.

D. Syarat dan Penanganan Telur Tetas dan DOQ.

1. Syarat telur tetas
a. disimpan maksimal selama 7 (tujuh) hari sebelum masuk
mesin tetas;
b. bobot minimal 10 (sepuluh) gram;
c. bersih, bentuk normal, kualitas kerabang baik dan warna
seragam;
d. penetasan dilakukan dengan menggunakan mesin tetas.

2. Penanganan telur tetas
a. telur dikumpulkan minimal 3 (tiga) kali sehari agar
diperoleh telur yang bersih dan utuh;
b. kerabang telur dibersihkan sebelum disimpan dalam
ruang penyimpanan telur tetas.

3. Penanganan DOQ
a. DOQ dikeluarkan dari mesin tetas setelah bulu dalam
keadaan kering;
b. dilakukan seleksi untuk memilih DOQ yang memenuhi
standar mutu atau persyaratan teknis minimal;
c. DOQ yang tidak memenuhi standar mutu atau
persyaratan teknis minimal harus diafkir;
d. pemisahan jantan dan betina dilakukan melalui sexing
kloaka.

E. Kesehatan Hewan

1. Penyakit pada burung puyuh
Usaha pembibitan burung puyuh harus bebas dari penyakit
: Newcastle Disease (ND), Avian Influenza (AI), Infectious
Bursal Disease (IBD), Fowl Pox, Pullorum, Fowl cholera,
Fowl tiphoid, Arizona, Avian enchepallomyelitis, Omphalitis,
16 Pedoman Pembibitan Burung Puyuh Yang Baik (Good Breeding Practice)
Laringothracheitis, Aflatoxosis, Coccidiosis, Aspergillosis,
Colibasilosis, Leucocytozoonosis, Chronic Respiratory
Disease (CRD), Quail enteritis, Quail bronchitis, Inclusion
Body Hepatitis (IBH), Lymphoid leukosis (LL), Helminthiasis
serta penyakit-penyakit lain yang ditetapkan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam bidang
kesehatan hewan.

2. Pengamanan terhadap kemungkinan tertularnya penyakit
a. Tindakan biosekuriti
1) lokasi pembibitan harus diberi pagar keliling untuk
memudahkan kontrol keluar masuknya individu,
kendaraan, barang serta mencegah masuknya
hewan lain;
2) kandang pembibitan tidak mudah dimasuki dan
dijadikan sarang binatang pembawa penyakit
dengan memberi pelindung jaring atau kawat kasa
atau pagar pembatas dengan lingkungan luar;
3) pembersihan dan pencucian kandang yang baru
dikosongkan dilakukan dengan menggunakan
desinfektan;
4) desinfeksi kandang dan peralatan serta pembasmian
serangga, parasit dan hama lainnya dilakukan
secara teratur;
5) kandang harus dikosongkan minimal selama 2 (dua)
minggu sebelum digunakan kembali;
6) di dalam lokasi pembibitan puyuh tidak terdapat
ternak dan unggas lain yang dapat sebagai
penghantar penyakit menular;
7) setiap individu yang masuk komplek perkandangan
harus menggunakan baju dan sepatu khusus yang
sudah melalui proses desinfeksi;
8) proses desinfeksi meliputi membersihkan diri dengan
sabun dan mencelupkan sepatu kedalam wadah
desinfektan;
9) pekerja kandang sebaiknya menggunakan masker
atau penutup mulut dan hidung serta sarung tangan
pada saat menangani ternak;
Pedoman Pem bibitan Burung Puyuh Yang Baik (Good Breeding Practice) 17
10) pekerja yang menangani ternak yang sakit tidak
diperkenankan menangani ternak yang sehat untuk
mencegah terjadinya penularan penyakit dari
sekelompok ternak yang sakit ke kelompok ternak
yang sehat.

b. Tindakan kesehatan
1) melakukan vaksinasi terhadap penyakit unggas
menular yaitu Newcastle Disease (ND), Avian
Influenza (AI), Marek’s Disease, Infectious Bursal
Disease (IBD), dan Fowl Pox sesuai dengan
peraturan yang berlaku;
2) melakukan pemeriksaan laboratorium secara rutin
terhadap penyakit Pullorum;
3) burung puyuh yang tampak sakit harus dikeluarkan
dari kandang dan ditempatkan di kandang isolasi
untuk diberikan tindakan pengobatan;
4) burung puyuh yang menderita penyakit menular,
bangkai puyuh dan limbah penetasan tidak boleh
dibawa keluar komplek pembibitan dan harus segera
dimusnahkan dengan cara dibakar dan dikubur
dengan kedalaman tanah sesuai dengan kapasitas
bangkai dan ditimbun sedalam 0,5 meter;
5) apabila terjadi kasus penyakit hewan menular yang
berasal dari burung puyuh harus segera dilaporkan
kepada dokter hewan, mantri hewan, aparat/pamong
atau ke Dinas Peternakan atau Dinas yang
membidangi fungsi peternakan setempat, dalam
waktu 1 x 24 jam.

BAB V
PENCATATAN
Setiap usaha pembibitan burung puyuh harus melakukan
pencatatan, yang meliputi:

A. Data Bibit (seperti pada form-1)
1. Asal bibit dan kemampuan produksi tetua;
2. Tanggal menetas, bobot DOQ, mortalitas, Quail Housed,
Quail Day, umur mulai produksi, produksi telur, produksi
telur tetas, daya tetas.
3. Konsumsi Pakan dan Konversi Pakan;
4. Program kesehatan hewan.

B. Data Usaha Pembibitan (seperti pada form-2)
1. Populasi dan struktur populasi;
2. Produksi dan distribusi telur tetas dan DOQ.

BAB VI
PELESTARIAN LINGKUNGAN
Dalam usaha pembibitan burung puyuh harus memperhatikan
aspek pelestarian fungsi lingkungan hidup, sebagaimana diatur
dalam peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup.
Upaya pelestarian lingkungan diperlukan perhatian khusus
terhadap beberapa hal sebagai berikut:
1. mencegah timbulnya erosi serta membantu penghijauan di areal
usaha peternakan;
2. menghindari timbulnya polusi dan gangguan lain yang dapat
mengganggu lingkungan berupa bau busuk, serangga, tikus
serta pencemaran air sungai/air sumur dll;
3. setiap usaha peternakan burung puyuh membuat tempat
pembuangan kotoran, penguburan dan pembakaran bangkai
dalam lubang atau menggunakan incenerator;
4. memiliki dan mengoperasionalkan unit pengolahan limbah
(padat dan cair) sesuai kapasitas produksi limbah yang
dihasilkan;
5. bangkai burung puyuh dikeluarkan dari dalam kandang setiap
hari, dikumpulkan, dibakar dan dikubur;
6. lubang penguburan bangkai harus mempunyai kedalaman
minimal 1,5 meter dan ditaburi kapur sebelum ditutup tanah.

BAB VII
PENGAWASAN DAN PELAPORAN
Pengembangan bibit burung puyuh dilakukan dibawah bimbingan
dan pengawasan dinas yang membidangi fungsi peternakan
dan/atau kesehatan hewan setempat, instansi/lembaga teknis.

A. Pengawasan

1. Sistem Pengawasan
Sistim pengawasan terdiri dari pengawasan internal dan
eksternal:
1) pengawasan internal dilakukan oleh pembibit burung
puyuh pada titik kritis dalam proses produksi bibit;
2) pengawasan eksternal dilakukan oleh dinas/Instansi
yang berwenang dalam bidang peternakan dan
kesehatan hewan;
3) pengawasan dilakukan terhadap pelaksanaan
manajemen pembibitan dengan mengacu Pedoman
Pembibitan Burung Puyuh Yang Baik (Good Breeding
Practice).

2. Sertifikasi
1) Sertifikasi dapat diajukan oleh pembibit apabila proses
produksi dan produk yang dihasilkan (bibit burung
puyuh) telah memenuhi standar dan/atau persyaratan
teknis minimal.
2) Sertifikat dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi atau
instansi yang berwenang setelah dilakukan penilaian.
3. Monitoring dan Evaluasi
1) Monitoring dan evaluasi di tingkat pusat dilaksanakan
oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan
Hewan cq. Direktorat Perbibitan dan di tingkat provinsi
dan kabupaten/kota dilaksanakan oleh instansi yang
membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan
provinsi dan kabupaten/kota.
2) Monitoring dan evaluasi dilakukan secara periodik
sekurang – kurangnya setiap 3 (tiga) bulan.
Pedoman Pem bibitan Burung Puyuh Yang Baik (Good Breeding Practice) 21

B. Pelaporan
Setiap usaha pembibitan burung puyuh wajib membuat laporan
secara berkala (tiga bulanan dan tahunan) dan melaporkan
kepada instansi yang membidangi fungsi peternakan dan
kesehatan hewan di kabupaten/kota dengan tembusan kepada
dinas provinsi dan Direktorat Jenderal Peternakan dan
Kesehatan Hewan.

BAB VIII
PENUTUP
Pedoman ini bersifat dinamis dan akan disesuaikan kembali apabila
terjadi perubahan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi.
MENTERI PERTANIAN,
S U S W O N O

About these ads

8 responses to “Menyimak Peraturan Menteri Pertanian No. 54/Permentan/2010 tentang Pedoman Pembibitan Burung Puyuh yang Baik

  1. kalau bisa saya minta softcopy-nya, supaya bisa didownload dan dapat dibaca dgn baik serta penataan tulisannya baik.
    terima kasih sebelumnya.

    • Terima kasih masukannya. Artikel tersebut hanya ambil sedikit dari format PDF. Untuk link downloadnya saya tidak berani memasang, sekedar berhati-hati saja karena ketatnya ToS di wordpress.com ini.

      Jika berkenan, mungkin selengkapnya bisa saya email saja?

      Terima kasih perhatiannya.
      Salam.

  2. Dengan senang hati, saya tunggu file-nya di email saya;
    bapakdayat@gmail.com

    Terima kasih
    Salam

  3. mohon kirim file pdfnya pak. tq.

  4. liar biasa semangat berbagai informasi ttg puyuh guna kemasalhatan umat

  5. pak sy juga minta dikirim via email untuk mempermudah membaca dan di print, amirshofyan@yahoo.co.id , terimakasih sebelumnya

Silahkan Menuliskan Komentar di Sini [Trima Kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s