Penyebab Kegagalan Beternak Puyuh yang Satu ini Sering Terjadi [Hati-hati]

Jika takut dengan akibat, berhati-hatilah pada sebab.

Pahitnya kegagalan, kadang bisa disamakan dengan pahitnya obat atau jamu untuk hidup lebih sehat. Walau manusiawi juga untuk mengeluh sakit ketika sebuah kegagalan menerpa.

Termasuk dalam usaha budidaya beternak puyuh. Inginnya meraup untung dan sukses. Namun bagaimana lagi jika kadang ada yang dipaksa untuk berhenti karena penyebab kegagalan yang satu ini.

Semua pelaku usaha tentu yang diminta dan diharap adalah kesuksesan. Tidak ada yang mau dengan si kegagalan. Biarpun banyak yang bilang bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, atau juga kegagalan adalah awal dari kesuksesan. Namun menelan pil pahit kegagalan, kadang musti diterima juga. Untuk nanti terus maju, meraih kejayaan, biarpun tidak harus di bidang yang sama.

Berkata mengenai kegagalan, keberhasilan yang tertunda, awal dari kesuksesan, atau apapun itu kata-kata untuk memotivasi yang membakar semangat hidup agar terus menyala. Tak lepas dari satu kata, yaitu: “pengalaman”

Pengalaman ialah apa yang pernah dialami. Menjadi pelajaran, untuk tidak mengulangi lagi pada penyebab kegagalan yang pernah menerpa.
Akan tetapi menurut saya, tanpa perlu mengalami sendiri pun, kita bisa memetik pelajaran dan hikmah dari pengalaman orang lain. Untuk selanjutnya kita bisa berhati-hati dan waspada atas sesuatu penyebab kegagalan.

Termasuk yang satu ini, terhitung sering menjadi penyebab kegagalan usaha beternak burung puyuh, khususnya petelur.

Mohon maaf kalau tidak langsung pada poin yang dimaksud. Karena agak miris mau membicarakan hal yang satu ini.
Seperti angin yang bisa menjadi badai dan merusak apa saja. Seperti air yang bisa menjadi banjir dan dengan rakusnya melahap apa saja. Lebih sering tersadar, setelah semuanya terjadi, tak bisa diundur lagi waktu yang pelan tapi pasti, merambat detik demi detik, menjadi hitungan tahun bahkan puluhan tahun tidak terasa.

Melihat pada keuntungan beternak puyuh yang begitu menggiurkan. Lantas angan-angan serasa melayang ke awang-awang. Kadang tidak lagi memakai perhitungan untuk meraihnya. Setelah terjerumus dan baru menyadari, keadaan sudah babak belur tidak karuan.

Jangan sampai terjadi seperti itu. Maka waspada dan hati-hati, perlu dipergunakan. Hingga nanti bisa meraih harapan nan cemerlang.

Iming-iming keuntungan beternak puyuh demikian memikat. Tapi apalah arti perhitungan, jika hidup ini tidak pasti. Kekeliruan terbesar penyebab kegagalan yang satu ini, ialah terlalu berani membenturkan ketidakpastian melawan kepastian. Setelah ketidakpastian menjadi lemah tak berdaya, apapun bisa nekat dilakukan. Apapun bisa dihalalkan, dengan alasan keterpaksaan. Padahal keterpaksaan yang dibuat sendiri tanpa perhitungan.

Untuk itu bagi yang berminat usaha beternak burung puyuh, saya tidak berani menghimbau, tapi hanya berkata-kata, agar menghitung, menghitung, dan hitung lagi pada apa yang disebut dengan permodalan. Salah melangkah, maunya nambah, malah bisa berkurang, atau malah habis, atau juga malah minus dan senombok-nomboknya.

Terkait dengan permodalan. Penyebab kegagalan beternak burung puyuh ini terhitung sering terjadi. Karena itu tadi; melawankan ketidakpastian dengan kepastian.

Saya tidak melarang,tidak juga menghimbau, akan tetapi usaha bidang ternak puyuh ini, kalau bisa diusahakan: menghindar dari modal pinjaman. Susah ya?

Tentu yang saya maksud adalah pinjaman berbunga, berkala, dan harus dibayarkan tiap bulannya. Entah itu dari lembaga manapun, baik dengan embel-embel bunga lunak, bunga empuk, bunga genduk-genduk, tapi siapa sangka kalau di dalam busa yang lembut telah ada jarum tajam yang siap menusuk.

Mungkin ada juga yang sukses dan bisa tertawa-tawa. Tapi tidak ada salahnya melihat pada yang tidak berhasil. Gagal. Menangis. Namun apalah daya.
Karena itu pertimbangkan dengan sepenuh perhatian. Apakah ketidakpastian yang akan Anda jalani nantinya kuat atau tidak melawan kepastian bulanan.

Boleh jadi punya cadangan. Mungkin punya kekuatan serep untuk menghadapi jika suatu saat ternyata ada keadaan gelap. Keadaan genting dan gawat.
Lhah… Kenapa tidak serep atau cadangan itu saja yang dijadikan modal? Lebih aman dan lebih nyaman. Tidak usah menunggu terpaksa dijual.

Bahkan secara perhitungan, kekuatan cadangan itu nantinya bisa berlipat-lipat. Menjadi tabungan. Untuk meraih kesuksesan, tanpa risiko tercebur jurang yang dalam.

Demikian semoga menjadi renungan. Mungkin ada masukan, usulan, ataupun pandangan alternatif bagi yang ingin beternak puyuh tapi tidak punya modal? Atau dengan cari pinjaman berbunga, barangkali ada trik aman?

Salam kasih dan penuh sayang.
[Puyuh Jaya]

About these ads

8 responses to “Penyebab Kegagalan Beternak Puyuh yang Satu ini Sering Terjadi [Hati-hati]

  1. kunci utamanya adalah persiapan dan perhitungan, mau modal pinjaman atau modal sendiri rasanya sama mas resikonya, hanya saja jika modal sendiri habis ya habis, jika modal pinjaman habis ya masih menyisakan hutang.

    namun jika segala sesuatunya dipersiapkan dengan matang, dengan perhitungan yg sangat detail, mau usaha apa saja saya rasa sekalipun terpuruk masih ada sedikit hasil yg dapat diperoleh.

    menurut saya beternak (apa saja), justru cenderung kita dipaksa menjadi pebisnis handal, manajemen yg komplit ntah masalah kandang, pakan, pemasaran, penyakit dll.

    untuk itu bagi calon peternak, jangan melihat orang dari hasilnya atau untungnya, tapi lihat cara kerjanya. kebanyakan calon peternak yg datang ke peternakan saya mayoritas bertanya “untung g beternak puyuh? dalam 1000 ekor untung brapa per bulan?” selalu itu dan itu.

    padahal, di bidang apapun itu, yg seharusnya dilihat bukan untungnya, tapi bagaimana caranya mendapatkan untung.

    jika saya brani menjawab pertnyaan calon peternak yg datang kepeternakan saya diatas, pasti saya jawab “ya untung mas, dalam 1000 ekor saya bisa mendapatkan penghasilan kotor (penjualan telur – pakan) 500rb-1,6jt. tergantung sama harga telur yg pasang surut”

    tanpa banyak bicara dengan bertanya tentang perawatan seadanya, mereka nekat ngorder puyuh hingga ribuan ekor.

    ketika badai menerpa, ntah harga telur anjlok, penyakit datang menyerang, manajemen keuangan yang amburadul, mereka semua pada mengeluh.

    pertanyaannya SALAH SIAPA SEKARANG?

    >>hanya sharing cerita saja, kurang lebihnya minta maaf<<

    • Terima kasih sharingnya, Mas Sholehuddin.
      Semoga bermanfaat dan menjadi bahan pertimbangan bagi yang berminat beternak puyuh.

      Sebaiknya jangan melihat dulu untung, tapi pelajari dulu bagaimana mencari untung.

      Salam hangat.

  2. Semakin menarik saja postingnya mas, bikin tergelitik jari untuk menuangkan kata-kata yg sekian lama terpendam dalam dada.

    Bolehkan masss…

    Komentar Mas Sholihuddin is the best real eksperien
    Tentimoni penulis

    Pada awalnya ingin mencarian pekerjaan ponakan yg mau kuliah ortunya belum bisa, akhirnya dg keiklasan untuk membantu ponakan saya coba beberapa jenis usaha diantaranya membuat warnet, toko dn memelihara ayam bangkok, ayam kampung, ayam arab, ayam horn/petelur dan puyuh.

    Hari berganti hari bulan berganti bulan usaha warnet dan toko alhamdulillah lancar, sedangkan untuk penangkaran ternak yg bertahan hanya tinggal puyuh sampai sekarang yg sudah sekitar 1 th dan yg lain entah sydah ratusan ribu atau jutaan yg tanpa bisa kembali.

    Khusus untuk puyuh sebenarnya sy sudah tidak kuat yang harus nomboki terus menerus saat akan beli paka, namun saya masih berharap bertahan dg mencoba pembibitan tapi ternyata juga tidak seindah/semanis yg kita bayangkan atau diceritakan orang lain.

    Alhamdulillah saya punya penghasilan tetap/pegawai sehingga tidak begitu menguras habis kantong uang dapur, tapi lama-lama juga harus berfikir seribu kali untuk meneruskan usaha penangkaran puyuh atau yg lain.

    Usaha peternakan atau yg berhubungan dengan makhluk hidup agak susah dipridiksikan dg tepat, karena banyak faktor yg mempengaruhi terutama masalah penyakit, harga hasil produksi, teknik perawatan, pakan dll, beda kalau usaha warnet atau toko dg barang mati dan mudah untuk dihitung.

    Kembali kemasalah puyuh, kalau kita belum punya pengalaman sebaikknya mencoba dulu beberapa ekor saja, dan satu lagi harus di dasari rasa kecintaan atau hobi, kalau kita selalu berfikir keuntungan pasti akan kecewa kalau tidak punya pengalaman sebelumnya.

    Seperti saya sekarang ini saya niati hobi, sehingga walaupun masih harus nomboki terus, tapi ada kepuasan batin yg tidak tergantikan dengan harta benda berapapun.

    Kalau saya hitung2 diatas kertas memang kelihatannya masih untung tapi itu masih kecil, apalagi saat ini harga masih fluktuatif dan penyakit/tingkat kematian masih tinggi, terasa begitu berat untuk untung besar.

    Testimoni diatas jangan dianggap sebagai patokan, itu hanya kisah kurang beruntung yg saya alami.
    Pesan saya jangan pesimis melaukan usaha apa saja termasuk penangkaran puyuh yg banyak orang bilang sangat-sangat mengiurkan dan menjanjikan, silahkan coba-coba dan coba lagi, saya yakin suatu saat pasti akan berhasil, seperti mas Arif, mas Sholikhudin dll

    Demikian mas puyuhjaya, testimoni yg tidak urut kata2nya dan mudah-mudahan pembaca yg lain bisa menceritakan pengalamannya di blog ini

    Salam adem ayem karena musim penghujan

    • Wah, pengalaman yang luar biasa hebatnya di dunia usaha. Senangnya menjadi ponakan Pak Komari. Penuh perhatian dan kasih sayang pada saudara.
      Terima kasih telah berbagi pengalaman. Semoga diantara pembaca lain, juga berkenan berbagi cerita.

      Begitulah memang, Pak. Kalau disawang-sawang, sepertinya lebih nyaman usaha di bidang perniagaan. Rasanya seperti lebih aman juga. Tapi yang penting adalah optimis. Maju terus pantang mundur, seperti yang dicontohkan oleh Pak Komari. Terus semangat dan semangat terus. Toh rejeki sudah tercatat, hanya tinggal bagaimana kita berusaha, dan berdoa.

      Salam adhem juga, Pak. Di sini semalaman hujan.
      Terima kasih doanya, semoga sayapun sukses seperti Mas Sholehuddin.

  3. as.. mas puyuh jaya. boleh kan ikut nimbrung mas. jujur saya sudah lebih dari 3 bln ini sedang mencari info tetang puyuh. sy punya niat utk piara puyuh kecil kecilan, kira kira mas punya relasi peternak puyuh daerah bandung dan cimahi ga.. jujur sy awam tentang burung puyuh. mksh

  4. ass… wr.wb
    makasih buat infonya mas2 semua.
    saya adi dari sulawesi selatan kota palopo,.
    salam kenal.
    kalau mnurut sy beternak puyuh sangat menguntungkan khususnya di wilayah sy.krn harga disini masih sangat tinggi kisaran 1000 per biji (telur puyuh) apalagi masih sangat minim peternak disini kurang lebih 3 org aja. seeeeeeeeeeeee kota palopo sampai perbatasan sulawesi tengah.
    tapi krn sy tidak begitu tertarik untk jual telurnya,jadi saya jual DOQ nya aja.
    untk wilayah di kota saya,harga DOQ nya Rp 5000 umur 1-3 hari,sedangan umr 7-10 hari dengan harga 7000-8000 per ekor.
    cukup menggiurkan bukan…?
    HEHEHHH…

Silahkan Menuliskan Komentar di Sini [Trima Kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s