Istilah Horn, Leghorn dalam Ternak Ayam Petelur

Sebelumnya mohon maaf dan perkenan. Ada dua komentar di halaman informasi harga terkini yang dua-duanya memberikan pencerahan dan menarik perhatian. Mengenai istilah, bahkan sejarah ayam petelur. Juga istilah horn / leghorn.

Komentar dari Bp Deden dan Bp Ichwan mengenai hal tersebut menambah wawasan akan ayam ras petelur. Yang mana selama ini secara umum jarang diperhatikan.
Silahkan….

Dari Bp Deden:
saya bingung, di ternak ada istilah HORN apa maksudnya ???. mohon maaf terutama di daerah jawa timur.
namun setelah saya amati dan telisik mungkin maksudnya ayam ras petelur.??????. dan secara etimologi tatabahasa indonesia ya tidak ditemukan istilah itu dengan maksud tersebut diatas

mungkin dalam forum ini. adalah kesempatan untuk meluruskan istilah tadi. saya lihat ada pakar unggas seperti yang terhormat Bapak Sholehuddin, bisa membantu mencerahkan kepada halayak peternak. caranya dari diri kita sendiri. (istilah ini takut ketukar dg corn=jagung).

saya pribadi berpendapat istilah horn mungkin dari nama ayam petelur jaman baheula thn 60 an. namanya leghorn dengan ciri warna kerabang putih. tapi kan ayam jenis ini sudah tidak ada. yang beredar sekarang adalah ayam petelur berkerabang cokelat. dan jenisnya bukan leghorn lagi.

sekian terimakasih. mohon maaf kalau ada kalimat atau rangkaian kata yang kurang berkenan.

Dari Bp Ichwan:

@DEDEN:
maaf menyela saya peternak ayam horn sebelah bpk solehudin
Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk
diambil telurnya.
Asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan dan
itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak. Tahun
demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para
pakar. Arah seleksi ditujukan pada produksi yang banyak, karena ayam hutan
tadi dapat diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak
dalam seleksi tadi mulai spesifik. Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi
daging dikenal dengan ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal
dengan ayam petelur. Selain itu, seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur
hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat.
Persilangan dan seleksi itu dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam
petelur seperti yang ada sekarang ini.

Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek
dibuang dan sifat baik dipertahankan (“terus dimurnikan”). Inilah yang kemudian
dikenal dengan ayam petelur unggul.
Menginjak awal tahun 1900-an, ayam liar itu tetap pada tempatnya akrab
dengan pola kehidupan masyarakat dipedesaan.

Memasuki periode 1940-an,
orang mulai mengenal ayam lain selain ayam liar itu. Dari sini, orang mulai
membedakan antara ayam orang Belanda (Bangsa Belanda saat itu menjajah
Indonesia) dengan ayam liar di Indonesia. Ayam liar ini kemudian dinamakan
ayam lokal yang kemudian disebut ayam kampung karena keberadaan ayam itu
memang di pedesaan. Sementara ayam orang Belanda disebut dengan ayam
luar negeri yang kemudian lebih akrab dengan sebutan ayam negeri (kala itu
masih merupakan ayam negeri galur murni). Ayam semacam ini masih bisa
dijumpai di tahun 1950-an yang dipelihara oleh beberapa orang penggemar
ayam. Hingga akhir periode 1980-an, orang Indonesia tidak banyak mengenal
klasifikasi ayam.

Ketika itu, sifat ayam dianggap seperti ayam kampung saja, bila telurnya enak dimakan maka dagingnya juga enak dimakan. Namun,
pendapat itu ternyata tidak benar, ayam negeri/ayam ras ini ternyata bertelur
banyak tetapi tidak enak dagingnya.
Ayam yang pertama masuk dan mulai diternakkan pada periode ini adalah
ayam ras petelur white leghorn yang kurus dan umumnya setelah habis masa
produktifnya.

Antipati orang terhadap daging ayam ras cukup lama hingga
menjelang akhir periode 1990-an. Ketika itu mulai merebak peternakan ayam
broiler yang memang khusus untuk daging, sementara ayam petelur
dwiguna/ayam petelur cokelat mulai menjamur pula. Disinilah masyarakat mulai
sadar bahwa ayam ras mempunyai klasifikasi sebagai petelur handal dan
pedaging yang enak. Mulai terjadi pula persaingan tajam antara telur dan
daging ayam ras dengan telur dan daging ayam kampung.

Sementara itu telur
ayam ras cokelat mulai diatas angin, sedangkan telur ayam kampung mulai
terpuruk pada penggunaan resep makanan tradisional saja. Persaingan inilah
menandakan maraknya peternakan ayam petelur.
Ayam kampung memang bertelur dan dagingnya memang bertelur dan
dagingnya dapat dimakan, tetapi tidak dapat diklasifikasikan sebagai ayam
dwiguna secara komersial-unggul. Penyebabnya, dasar genetis antara ayam
kampung dan ayam ras petelur dwiguna ini memang berbeda jauh. Ayam
kampung dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa baiknya.

Sehingga
ayam kampung dapat mengantisipasi perubahan iklim dengan baik
dibandingkan ayam ras. Hanya kemampuan genetisnya yang membedakan
produksi kedua ayam ini. Walaupun ayam ras itu juga berasal dari ayam liar di
Asia dan Afrika.
sumber : bappennas

kesimpulannya ayam petelur yang beredar saat ini merupakan keturunan dari leghorn makanya disebut ayam horn/ayam negeri/ayam luar negri

terang saja dikamus besar bahasa indonesia tidak ada, lawong itu istilah peternakan,
sama saja klu bapak nyari istilah kedokteran di kamus bahasa indonesia adnya cm dikamus kedokteran

About these ads

2 responses to “Istilah Horn, Leghorn dalam Ternak Ayam Petelur

  1. ayam petelur memang sagat baik untuk dibuat sebagai hewan pemeliharaan selain dagingnya bisa di makan telornya juga bisa di manafaatkan sebagai peluang bisisnis usaha

  2. mengenai telur ayam/telur puyuh,semua memang sangat penting untuk di kosumsi bagi manusia.

Silahkan Menuliskan Komentar di Sini [Trima Kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s